ISLAM LIVE – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 11,57 persen ke level 5.185,1 pada 16 Oktober 2026. Pada saat yang sama, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih meluas dengan 17.108 titik panas terdeteksi hingga 12 Oktober. Situasi ini menyoroti tantangan menjaga keberlanjutan sektor ekonomi kreatif di tengah tekanan ekonomi dan bencana lingkungan.
Direktur Kajian dan Manajemen Strategis Kementerian Ekonomi Kreatif, Agus Syarip Hidayat, sebelumnya menyatakan subsektor ekonomi kreatif relatif tahan terhadap hambatan perdagangan internasional.
“Subsektor ini paling resilien karena nilai tambah bersumber dari talenta manusia dan kreativitas, bukan bahan baku impor. Tidak terpengaruh tarif atau gangguan rantai pasok global,” ujar Agus dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Namun, ketahanan terhadap gangguan rantai pasok tidak otomatis berarti kebal terhadap gejolak pasar modal. Penurunan kepercayaan investor berpotensi memengaruhi akses pembiayaan bagi pelaku ekonomi kreatif yang membutuhkan investasi.
Di sisi lain, Center of Economic and Law Studies (CELIOS) memperkirakan kerugian ekonomi akibat karhutla selama Januari–Agustus 2026 mencapai Rp39,29 triliun hingga Rp123,1 triliun.
Kondisi tersebut menempatkan ketahanan ekonomi kreatif dalam ujian, terutama terkait kesinambungan pembiayaan dan perlindungan penghidupan pelakunya saat krisis berlangsung.
