ISLAM LIVE – Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, menyoroti ironi besar dunia pendidikan di mana sekolah sangat ketat mengatur seragam, rambut, dan keterlambatan siswa, tetapi justru gagal mendeteksi keberadaan senjata api, amunisi, narkotika, dan VCD porno di lingkungan sekolah.
Temuan ratusan benda terkait senjata di Sekolah Harapan, Pondok Pinang, Jakarta Selatan, dinilai Ubaid sebagai tamparan keras sekaligus cerminan lemahnya sistem pengawasan pendidikan yang seharusnya menjadi ruang paling aman bagi anak.
“Ini kenyataan pahit yang terus kita telan dan saksikan di sekolah-sekolah kita. Sekolah harus menjadi ruang paling aman bagi anak. Kalau senjata, amunisi, dan narkoba bisa masuk ke sekolah, maka yang gagal bukan hanya satu sekolah. Sistem pengawasan pendidikan kita juga sedang dipermalukan,” kata Ubaid Matraji, Koordinator Nasional JPPI, di Jakarta, Jumat (7/8/2026).
Ia mempertanyakan kegagalan peran kepala sekolah, yayasan, pengawas sekolah, dinas pendidikan, serta sistem keamanan internal yang seharusnya mencegah masuknya barang berbahaya ke lingkungan pendidikan.
“Jangan sampai kita punya sekolah yang sangat ketat mengatur seragam, rambut, sepatu, dan keterlambatan siswa, tetapi justru gagal mendeteksi senjata dan narkoba di dalam lingkungannya sendiri. Itu ironi besar pendidikan kita,” ucapnya.
Ubaid menegaskan keberadaan ratusan senjata tajam dengan dalih keperluan ekstrakurikuler menembak tidak bisa dibenarkan, karena persoalan utama bukan hanya legalitas barang tetapi dampaknya terhadap rasa aman siswa dan integritas lembaga pendidikan.
“Ketika keduanya ditemukan di sekolah, yang sedang dipertaruhkan bukan hanya keamanan fisik siswa, tetapi juga integritas lembaga pendidikan itu sendiri,” pungkasnya.
Temuan narkoba dan VCD porno di lokasi yang sama semakin memperburuk catatan dunia pendidikan dan mendorong perlunya evaluasi menyeluruh sistem pengawasan di sekolah-sekolah Indonesia.
