ISLAM LIVE – Sebanyak 174.694 warga mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada periode Agustus hingga 21 September 2026 di tujuh provinsi prioritas. Angka tersebut menjadi sorotan Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher yang mendorong evaluasi pencegahan karhutla di wilayah rawan.
Netty menilai penanganan kebakaran tidak cukup berfokus pada pemadaman, tetapi harus mampu mencegah kebakaran berulang dan mengurangi paparan asap terhadap masyarakat.
“Pemadaman memang penting, tetapi pencegahan tidak boleh tertinggal. Kita perlu memastikan kesiapsiagaan berjalan sebelum kebakaran meluas dan masyarakat terpapar asap dalam waktu lama,” ujar Netty dalam keterangannya kepada Parlementaria, Rabu (14/10/2026).
Ia mendorong penguatan pemantauan titik api, perlindungan kawasan gambut, penyediaan sarana yang memadai, serta penegakan hukum terhadap praktik pembakaran lahan. Koordinasi antara pemerintah daerah, petugas pemadam, dan pihak terkait juga dinilai penting untuk memastikan langkah pencegahan berjalan terpadu.
Menurut Netty, evaluasi pencegahan karhutla harus mengukur kemampuan mengurangi risiko kebakaran berulang sekaligus melindungi kesehatan masyarakat.
Data Kementerian Kesehatan yang dikutip Netty mencakup tujuh provinsi prioritas, termasuk Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.
