Menyelami Substansi Kebenaran dalam Kitab Fasl al-Maqal Karya Ibn Rusyd

2 views

ISLAM LIVE-Sepanjang sejarah pemikiran Islam, relasi antara filsafat dan syariat sering terjebak dalam pertarungan dikotomis yang cukup melelahkan. Bahkan, hingga hari ini, dinamika dan perdebatan dengan tema yang sama, masih menjadi bahan diskusi yang menarik. Karena, dengan seringnya ‘me-yapping-kan’ diri membahas soal mungkin tidak mungkinnya ‘mengawinkan’ agama dan filsafat, justru akan banyak melahirkan manusia-manusia yang terlatih daya kritisnya. Namun melalui Fasl al-Maqal, Ibn Rusyd meruntuhkan tembok pemisah itu dengan satu manifesto saja, bahwa kebenaran sejati tidak akan pernah sudi ‘membunuh’ kebenaran lainnya.

Pada artikel ini, lagi-lagi saya ingin mencoba menyelami alam pikir Ibn Rusyd. Bahkan lebih ekstrim, menjadi mufassir ‘amatir’ atas penyampaian banyak ide pikirnya dalam kitab Fasl al-Maqal. 

Sejauh yang saya analisa dari tiap susunan diksi yang direkonstruksi oleh Ibn Rusyd, nampaknya, Ibn Rusyd ingin memberikan penegasan bahwa filsafat dan syariat Islam bukanlah dua entitas yang saling bertentangan, malah justru saling mengafirmasi. 

Salah satu alasan yang menjadi dasar tulisan ini adalah satu kaidah yang berbunyi:

فإن الحق لا يضاد الحق بل يوافقه ويشهد له

“Sesungguhnya (satu) kebenaran itu tidak bertentangan dengan kebenaran (yang lain), melainkan saling sesuai dan saling mempersaksikan.”

Tentu saja, prinsip kaidah ini bukan hanya slogan formal dan untuk ‘gaya-gayaan’ saja. Ibn Rusyd dalam konteks ini, merekonstruksi argumennya seperti ini: “jika syariat adalah benar dan mengajak manusia kepada pengetahuan tentang Tuhan, maka penalaran rasional (burhani) tidak mungkin bertentangan dengan syariat”. Karena keduanya, tentu bersumber dari Satu Realitas dan akan saling menguatkan sampai kapanpun, apalagi dalam dinamika intelektual dan menjadi andil besar untuk kemajuan peradaban. Maka, dari sini, ia menolak segala bentuk dikotomi yang mempertentangkan iman dan ilmu, wahyu dan akal. Terdengar ‘ngotot’, tapi memang seperti ini diksi-diksi yang diejawantahkan oleh Ibn Rusyd dalam kumpulan istidlalnya terkait harmonisasi agama dan filsafat. 

Baca Juga:  Makna Metafisik Alif dalam Horizon Wujud

Lalu, patut kita lakukan uji publik dengan pertanyaan:

“Bagaimana manusia sampai pada keyakinan (tasdiq) akan kebenaran ini?”

Nah, pada posisi ini, Ibn Rusyd menyadari bahwa kapasitas intelektual manusia di muka bumi tidak dianugrahkan secara seragam dengan kualitas ‘pentium’ yang sama. Dalam Fasl al-Maqal, ia membagi manusia ke dalam tiga kelompok berdasarkan metode tasdiq yang mereka gunakan.

  1. Kelompok burhaniyyun (ahli demonstrasi). Ini adalah golongan filsuf dan ilmuwan yang menuntut pembuktian rasional dan logis. Mereka mencapai keyakinan melalui premis-premis yang pasti dan niscaya. 
  2. Kelompok jadaliyyun (ahli dialektika). Ini adalah para teolog dan cendekiawan yang berdebat dengan argumen-argumen yang bersifat populer (masyhurat) atau dugaan (maznunat). Kelompok ini mencapai keyakinan melalui perdebatan dan diskusi kritis.
  3. Kelompok khitabiyyun (ahli retorika). Ini adalah sekelompok orang yang menilai kebenaran secara ‘polosan/ lugu’ saja. Melalui contoh-contoh yang sederhana (cerita, perumpamaan, dan keindahan retorika) dan akrab sehari-hari supaya mudah dicerna. 

Ibn Rusyd menegaskan bahwa ketiga metode ini sah dan diakomodasi oleh syariat. Dalam Al-Qur’an pun, sebagai kitab suci yang universal, menggunakan ketiga pendekatan ini untuk mengajak seluruh umat manusia. 

Klasifikasi ini, sebetulnya bukan untuk mendiskreditkan kelompok tertentu, melainkan untuk menjelaskan mengapa Al-Qur’an bisa diterima oleh semua lapisan masyarakat. Namun, pembahasan ini pastinya mengandung potensi kritik terhadap Ibn Rusyd. Dalam satu tempat, ia menyebut bahwa kelompok jadali dan khitabi pada dasarnya ‘meyakini’ kebenaran sebagaimana keyakinan yang dicapai oleh ahli burhan. Mereka menganggap keyakinan hasil debat atau cerita itu setara dengan keyakinan hasil pembuktian logis. Padahal, secara metodologis, keduanya sangat berbeda. Keyakinan jadali dan khitabi seringkali dibangun di atas asumsi, emosi, atau otoritas, bukan pada bukti yang niscaya. Terlihat di sini Ibn Rusyd seolah-olah ‘meminjamkan’ label burhan kepada metode-metode lain agar keyakinan yang terbentuk dianggap sah dan kokoh. Menurut saya, ini adalah semacam ilusi yang niscaya, tujuannya supaya psikologis bisa dikompromikan, yang akhirnya, manusia dapat hidup dengan keyakinan yang mantap tanpa harus menjadi seorang filsuf.

Baca Juga:  Fasl al-Maqal: Melihat Ibn Rusyd yang ‘Merapikan’ Hubungan Agama dan Filsafat

Kembali kepada pembicaraan di awal yaitu sebuah prinsip “al-haqq la yudadd al-haqq” dan teori tiga metode tasdiq, maka ini jelas merupakan fondasi bagi proyek besar Ibn Rusyd, yaitu: harmonisasi akal dan wahyu. 

Sejumlah argumen yang cukup menjadi ‘vitamin’ bagi orang yang kuriositinya tinggi, ketika menelisik Fasl al-Maqal, maka jelas Ibn Rusyd ingin menunjukkan bahwa menjadi seorang muslim yang taat dan seorang filsuf yang rasional bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya adalah jalan berbeda menuju satu tujuan yang sama: KEBENARAN HAKIKI. Mereka yang menolak kebenaran, menurutnya, hanyalah orang-orang yang keras kepala (juhud) atau lalai (ghaflah). Dengan demikian, kitab Faslul Maqal adalah sebuah karya yang berisikan ramuan-ramuan pembelaan Ibn Rusyd yang ditampilkan dengan elegan terhadap universalitas dan kedalaman ajaran Islam.(*)

Wallohu a’lam bissowab

 

Referensi

Rusyd, Ibn. (t.th.). Fasl al-Maqal fi Taqrir ma bayna al-Shari’ah wa al-Hikmah min al-Ittisal aw Wujub al-Nazar al-‘Aqli wa Hudud al-Ta’wil (al-Din wa al-Mujtama’). Dengan pengantar analitis oleh Dr. M. Abid Aljabiri. Beirut: Markaz Dirasat al-Wahdah al-Arabiyyah. H. 96.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA