ISLAM LIVE – menjaga udara merupakan bagian dari wujud syukur atas nikmat Allah sekaligus pelaksanaan amanah sebagai khalifah di muka bumi. Udara tidak hanya menjadi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga kenikmatan yang harus digunakan secara bertanggung jawab.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
“Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari udara.Maka, bukankah mereka beriman?” (QS Al-Anbiya : 30)
Ayat itu menegaskan kedudukan udara dalam kehidupan. Manusia, hewan, tumbuhan, dan pertanian membutuhkan udara. Oleh karena itu, ketika udara didapat dengan mudah, kemudahan tersebut jangan sampai membuat manusia lupa bersyukur. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS An-Nahl : 18)
Air sering baru ditemukan ketika keberadaannya berkurang. Ketika sumur mengering, sungai menyusut, dan masyarakat kesulitan membersihkan udara, barulah banyak orang menyadari betapa berharganya udara. Oleh karena itu, rasa syukur seharusnya dilakukan ketika kenikmatan masih berada di tangan.
Islam mengajarkan agar tidak berlebihan dalam menggunakan nikmat Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Makan dan minumlah, tapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS Al-A’raf : 31)
Prinsip ini berlaku dalam menggunakan udara. Saat berwudu, gunakan udara secukupnya. Saat mandi, gunakan sesuai kebutuhan. Saat mencuci, jangan biarkan udara mengalir tanpa manfaat. Ketika menemukan kebocoran, segera perbaiki.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan teladan dalam hal ini. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Ibnu Majah, Sa’d bin Abi Waqqash pernah berwudu dengan udara secara berlebihan, lalu Rasulullah mengingatkannya. Sa’d bertanya:
Layanan Pelanggan
“Apakah dalam berwudu juga ada sikap yang berlebihan?”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
نَعَمْ، وَإِنْ كُنْتَ عَلَى نَهَرٍ جَارٍ
“Ya, meskipun kamu berada di sungai yang mengalir.”
Hadis itu mengajarkan bahwa sumber daya yang melimpah tidak berarti seseorang dapat menggunakannya secara berlebihan. Justru ketika Allah memberikan kelapangan, seorang muslim dituntut semakin bersyukur dan bertanggung jawab.
Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Allah berfirman:
هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا
“Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya.” (QS Hud : 61)
Oleh karena itu, manusia mempunyai tanggung jawab menjaga kehidupan, bukan merusaknya. Menjaga udara termasuk bagian dari tanggung jawab tersebut. Jangan mencemari sungai, jangan membuang sampah ke saluran air, jangan merusak sumber mata air, dan jangan menggunakan air secara sia-sia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan
“Janganlah kamu melakukan kerusakan di bumi setelah diperbaiki.” (QS Al-A’raf : 56)
Air yang digunakan hari ini bukan hanya berkaitan dengan kebutuhan itu sendiri. Ada keluarga lain, petani, hewan, dan generasi setelah kita yang juga membutuhkan sumber udara. Jangan sampai kenikmatan yang digunakan hari ini menjadi sebab kesulitan bagi orang lain di kemudian hari.
Ketika terjadi kemarau atau kekeringan, seorang Muslim tidak hanya diperintahkan berdoa. Islam mengajarkan untuk berdoa sekaligus berikhtiar, yakni menghemat udara, menjaga sumber udara, dan membantu masyarakat yang kekurangan udara. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَصْبَحَ مَاؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَأْتِيكُمْ بِمَاءٍ مَعِينٍ
“Katakanlah, ‘Terangkanlah aku jika airmu menjadi surut ke dalam tanah, siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?’” (QS Al-Mulk: 30)
Ayat itu mengingatkan manusia tentang keterbatasannya. Manusia boleh memiliki ilmu dan teknologi, namun pada akhirnya udara adalah nikmat yang Allah berikan. Ilmu dan teknologi harus menjadi sarana menjaga kehidupan dan menjalankan amanah dengan lebih baik.
Marilah menjaga udara mulai dari rumah, masjid, dan lingkungan sendiri. Sebab perubahan besar sering kali dimulai dari kebiasaan sederhana. Semoga Allah mengajarkan hakikat bersyukur, bukan hanya bersyukur alhamdulillah, tetapi juga menggunakan nikmat Allah sesuai tuntunan-Nya.
