ISLAM LIVE – Masjid Hajjah Andi Nurhadi di Panaikang, Makassar, Sulawesi Selatan, dibangun dengan nilai investasi mencapai Rp1 triliun. Seluruh pendanaan proyek itu ditegaskan murni bersumber dari kantong pribadi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
“Progres fisik sudah 98 persen dan kubah sudah tertutup sepenuhnya. Saat ini tim fokus pada finishing pekerjaan, baik interior maupun eksterior, agar masjid segera siap digunakan,” kata Rezki Mulyadi, Humas PT Tiran Grup sekaligus Direktur AAS Foundation, di Makassar.
Menurut Rezki, tidak ada campur tangan dana pihak ketiga maupun tanggung jawab sosial perusahaan perusahaan. “Ini murni wakaf pribadi Bapak Amran untuk umat. Tidak ada satu rupiah pun dana sponsor di dalamnya,” tegasnya.
Masjid yang berdiri tepat di belakang markas Kodam XIV/Hasanuddin ini mulai dibangun sejak Oktober 2023. Bangunan berkapasitas 20 ribu jemaah itu dipersembahkan Amran khusus untuk mendiang ibundanya, Hj. Andi Nurhadi.
Sejak peletakan batu pertama, Amran menaruh harapan besar agar rumah ibadah ini tidak sekadar menjadi tempat salat. Ia berharap masjid itu tumbuh menjadi simpul peradaban Islam di Kawasan Timur Indonesia.
Rezki menambahkan, konsep rancangan masjid disiapkan untuk menampung berbagai kegiatan sosial dan keagamaan masyarakat. “Bapak Amran ingin masjid ini hidup dan memberi manfaat luas bagi umat, bukan sekedar bangunan megah,” tuturnya.
Komitmen menghadirkan fasilitas publik itu menjadi bagian dari perjalanan panjang filantropi pendiri Tiran Group tersebut. Bagi Amran, kesuksesan finansial yang dirintisnya sejak nol tidak punya arti jika tidak diputar kembali untuk membantu masyarakat kecil.
Prinsip itu pula yang mendorongnya mendirikan AAS Foundation selepas purna tugas dari posisi menteri pada periode pertama tahun 2019. Melalui yayasan ini, aksi kepedulian sosial dijalankan secara terstruktur dan berkelanjutan.
Pertumbuhan bisnis Tiran Group yang kian kokoh pasca-2019 menjadi pilar utama yang memungkinkan terealisasinya proyek wakaf tersebut. Hasil dari perkembangan usaha itulah yang kemudian disisihkan untuk pembangunan masjid.
Rezki juga mencatat jejak integritas Amran saat pertama kali dipanggil masuk ke dalam kabinet pemerintahan. Demi menghindari konflik kepentingan, Amran membuat keputusan ekstrem dengan menutup bisnis racun tikus miliknya saat itu berada di puncak kesuksesan.
“Beliau sangat menjaga batas antara bisnis dan tanggung jawabnya sebagai pejabat negara. Menutup usaha yang sedang tumbuh bukanlah keputusan mudah, tetapi dia melakukannya demi menghindari konflik kepentingan,” pungkas Rezki.
