ISLAM LIVE – Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak cukup dinilai dari banyaknya piring yang tersaji. Program ini perlu dilihat dari ketepatan sasaran dan perubahan nyata terhadap kehidupan anak.
Anggota Komisi XIII DPR RI Rapidin Simbolon menyatakan,
“Tidak semua siswa membutuhkan MBG itu”. Ia mengusulkan agar anggaran bagi sekitar 30 persen siswa yang kebutuhan gizinya telah terpenuhi orang tua dapat dialihkan ke sektor lain.
Pernyataan itu disampaikannya dalam RDP Komisi XIII DPR RI di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, 3 Juni 2026.
Dilansir dari kompas.com dokter spesialis gizi dr. Raissa E. Djuanda menilai pengelolaan MBG membutuhkan kompetensi ahli gizi.
“Sebagai dokter yang bergerak di bidang gizi, saya melihat bahwa program MBG adalah program yang sangat baik. Namun, ketika disebutkan bahwa program ini tidak memerlukan ahli gizi dan cukup diawasi oleh petugas non-profesional, ada beberapa hal penting yang perlu diluruskan,” kata Raissa dalam perbincangan dengan Kompas.com yang dipublikasikan 18 November 2025.
Kepala DPD Persagi Maluku Utara Siti Salmia juga ikut mengingatkan perihal MBG.
“Sebagus apa pun nilai gizinya, kalau tidak dimakan anak-anak, maka tidak ada manfaatnya,” ujarnya dalam Dialog Interaktif Ternate Pagi di RRI Ternate, 3 Maret 2026.
MBG akhirnya perlu diukur bukan hanya dari jumlah penerima, tetapi dari manfaat yang benar-benar dirasakan anak.
