ISLAM LIVE – Para salafus shalih memiliki pandangan istimewa terhadap makanan. Mereka tidak melihatnya sekadar kenikmatan dunia, tetapi sebagai karunia yang mengantarkan pada syukur dan ibadah. Para ulama terdahulu bahkan berkata, “Tidaklah dihidangkan sebuah makanan kepadamu kecuali di dalamnya termasuk 360 nikmat.” (Ghadza’ul Albab li Syarhi Mandzumatil Adab, As-Safarini 2/93)
Pandangan itu berakar pada kesadaran bahwa makanan halal dan baik adalah bagian dari rezeki yang harus dipertanggungjawabkan. Allah Ta’ala berfirman:
وَكُلُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ حَلٰلًا طَيِّبًاۖ وَّاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْٓ اَنْتُمْ بِهٖ مُؤْمِنُوْنَ
“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang telah dirizkikan kepadamu dan bertakwalah kepada Allah dan kamu beriman kepada-Nya.” (QS. Al-Maidah: 88)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan bahwa rasa aman, kesehatan badan, dan makanan pada hari itu sudah cukup sebagai kebahagiaan dunia. Beliau bersabda:
مَن أصبحَ منكم آمنًا في سربِهِ ، مُعافًى في جسدِهِ عندَهُ قوتُ يومِهِ ، فَكَأنَّما حيزت لَهُ الدُّنيا
“Barangsiapa di pagi hari merasa aman dalam perjalanannya, badannya sehat dan dia mendapati makanan untuk hari itu, seolah-olah kebahagiaan dunia telah diraih olehnya.” (HR. At-Tirmidzi: 2346, Ibnu Majah 4141, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash Shahihah, no. 2318)
Karena itu, seorang mukmin dianjurkan menjadi pribadi yang selalu bersyukur. Bahkan kenikmatan kesehatan dan air dingin yang melepas dahaga akan ditanyakan pada hari kiamat, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إن أول ما يُسأل عنه يوم القيامة من النعيم أن يقال له: ألم نُصِحَّ لك جسمك، ونُرْوِيك من الماء البارد؟
“Sesungguhnya pertama kali yang ditanyakan kepada seorang hamba pada hari kiamat berupa kenikmatan adalah ‘bukankah Kami telah menyehatkan badanmu dan melepaskan dahagamu dengan air yang dingin?'” (HR. At-Tirmidzi: 3358, Ibnu Hibban: 2585, Al-Hakim 4/138, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no. 539)
Para salaf pun terbiasa qana’ah dalam urusan kuliner. Hati mereka cukup dengan karunia Allah, tidak berlebih-lebihan, dan tidak menghambur-hamburkan harta demi prestise duniawi. Nabi juga mengajarkan makan dan minum secara seimbang demi menjaga kesehatan tubuh.
Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Tidaklah seorang hamba minum air yang jernih kemudian masuk ke tubuh tanpa kesulitan dan setelah itu keluar kotoran penyakitnya, kecuali wajib baginya bersyukur.” (Ibnu Abi Dunya, dalam Asy-Syukr, no. 192)
Kuliner semata bukan faktor utama kebahagiaan dunia. Justru dengan berkuliner, seorang mukmin terdorong lebih banyak bersyukur dan termotivasi beribadah kepada Allah Ta’ala.
Semoga saat menikmati hidangan penuh selera, hati kita terketuk untuk mengingat saudara-saudara seiman yang tengah dilanda kelaparan. Teladan mulia kita pun senantiasa memperhatikan keadaan umat yang ditimpa kesulitan.
