ISLAM LIVE – Pementasan tari Bedhaya Ullen Sentalu di Museum Ullen Sentalu, Sleman, Yogyakarta, tidak hanya menyajikan keindahan gerak tari, tetapi juga mengangkat pesan tentang pentingnya menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam dan warisan leluhur.
Karya yang dipersembahkan Yayasan Ulating Blencong Yogyakarta ini dipentaskan pada Kamis (23/7/2026) sebagai bagian dari peluncuran dua karya tari baru bersama Serimpi Sayidan.
Filosofi Bedhaya Ullen Sentalu berangkat dari inspirasi Gunung Merapi yang dipandang sebagai simbol kekuatan alam. Tujuh penari perempuan dalam tarian tersebut menggambarkan api Merapi yang bertransformasi menjadi cahaya kebijaksanaan melalui simbol blencong, lampu tradisional dalam pertunjukan wayang kulit.
Konsep tersebut dirangkum dalam istilah “ulating”, yang menggambarkan gerak nyala api sebagai lambang perubahan dari kekuatan alam menjadi sumber penerang bagi kehidupan manusia.
Selain menjadi unsur artistik, blencong dalam tradisi wayang memiliki makna filosofis. Cahaya yang dipancarkannya melahirkan bayangan yang menjadi simbol hubungan sebab-akibat sekaligus refleksi terhadap perilaku dan moralitas manusia.
Karya tari ini juga mengangkat konsep “sejatine”, yakni pandangan bahwa manusia bukan penguasa alam, melainkan bagian dari kehidupan yang memiliki tanggung jawab menjaga keseimbangan antara alam, sesama makhluk, dan leluhur. Melalui pesan tersebut, Bedhaya Ullen Sentalu menghadirkan seni tari sebagai media pelestarian nilai-nilai budaya Jawa sekaligus pengingat pentingnya harmoni dalam kehidupan.
