ISLAM LIVE – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyatakan bahwa perjalanan satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor merupakan bukti nyata keberhasilan pendidikan berbasis karakter dan integritas. Menurutnya, pesantren modern seperti Gontor berhasil menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan fondasi moral .
“Satu abad Gontor telah memberi warna penting bagi pendidikan Indonesia dengan melahirkan generasi yang berilmu, berkarakter, mandiri, dan mengabdi bagi bangsa,” ujar Brian Yuliarto, Mendiktisaintek, dalam puncak peringatan 100 Tahun Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026) .
Model pendidikan Gontor mengintegrasikan nilai-nilai tradisi Pesantren Tegalsari dengan metode modern yang digagas oleh Trimurti. Melalui perpaduan ini, sistem pengajaran berfokus pada penguasaan bahasa internasional (Arab dan Inggris) yang disandingkan dengan pengembangan ilmu sains serta pembentukan karakter yang kokoh .
Pendekatan holistik tersebut secara konsisten melahirkan sumber daya manusia yang unggul, berdaya saing, dan berintegritas tinggi. Peresmian Fakultas Kedokteran UNIDA Gontor menjadi bukti nyata bahwa pesantren modern mampu bertransformasi dan bersaing di bidang sains dan teknologi medis .
Perjalanan 100 tahun Gontor Baru (1926–2026) memiliki akar sejarah yang panjang. Pada 20 September 1926, tiga bersaudara (Trimurti) yakni KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fanani, dan KH Imam Zarkasyi mendirikan kembali Gontor dengan memadukan kurikulum modern dan tradisi pesantren. Kemudian pada 12 Oktober 1958, Trimurti secara resmi mewakafkan Pondok Modern Darussalam Gontor kepada umat Islam, memastikan kepemilikan lembaga tidak bergantung pada garis keturunan keluarga .
Kehadiran jajaran pimpinan negara dan perwakilan internasional, termasuk Wakil Grand Syaikh Al-Azhar Mesir Mohamed Abdelrahman Eldeweny, menegaskan posisi Gontor sebagai salah satu episentrum pendidikan Islam dunia. Dengan peresmian Fakultas Kedokteran UNIDA serta penegasan komitmen Panca Jiwa, Gontor membuktikan bahwa modal utama pembangunan bangsa tidak hanya terletak pada penguasaan teknologi, melainkan pada pembentukan karakter, kemandirian, dan integritas yang kokoh .
