Buku Islam Ala Prabowo Dipersoalkan, Sejumlah Tokoh Bantah Keterlibatan

11 views
Buku Islam Ala Prabowo kembali menjadi sorotan

ISLAM LIVE –  Polemik buku “Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam” memuat setelah sejumlah tokoh menganalisis pencantuman nama maupun bentuk keterlibatan mereka dalam buku tersebut. Persoalan ini menyoroti pentingnya transparansi dalam proses publikasi editorial, terutama dalam membedakan antara narasumber dan penulis .

“Persoalan muncul ketika tulisan yang dikaitkan dengan saya dengan judul ‘Dukungan Pesantren untuk Prabowo Subianto.’ Saya menyesalkan judul tersebut dan proses publikasi yang tidak transparan,” ujar KH Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar atau Gus Kautsar, Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri, dalam keterangannya, Selasa (8/9/2026).

Gus Kautsar mengakui pernah menerima seseorang yang disebutnya sebagai utusan salah satu penulis sekitar pertengahan tahun 2024. Dalam pertemuan itu berlangsung wawancara yang membahas tentang kebangsaan, pesantren, keberagaman, dan kemerdekaan. Namun, dia tidak pernah diberitahu bahwa hasil wawancara akan diterbitkan dalam buku berjudul tersebut.

Baca Juga:  PKB: Jangan Generalisasi Kasus Oknum di Pesantren

Sementara itu, Yusril Ihza Mahendra memberikan perspektif berbeda. Ia mengakui pernah diwawancarai tim penyusun, namun menegaskan tidak terlibat dalam penentuan judul buku. Menariknya, Yusril tidak mempermasalahkan substansi yang dimuat dalam bukunya dan menilai umum secara tidak ada persoalan mendasar dengan isi tersebut .

Nama BAZNAS ikut menjadi perhatian karena buku ini diluncurkan dalam Rakornas BAZNAS 2025. Namun, BAZNAS pada 7 September 2026 menegaskan tidak ada dana zakat, infak, dan sedekah yang digunakan untuk pembuatan maupun penerbitan buku tersebut. Menurut BAZNAS, keterlibatan lembaga itu berada dalam konteks hubungan kelembagaan dan literasi dakwah keagamaan.

Kontroversi ini pada akhirnya membuka isu yang lebih besar dalam dunia penerbitan tentang batasan antara narasumber dan penulis. Wawancara memang lazim digunakan sebagai sumber dalam penulisan buku, namun persoalan menjadi berbeda apabila hasil wawancara disusun menjadi tulisan dan nama narasumber ditempatkan sedemikian rupa sehingga pembaca dapat mengartikannya sebagai atribusi kepengarangan .

Baca Juga:  Pemkab Gresik Kuatkan Ekosistem Vokasi untuk Tekan Pengangguran dan Perluas Peluang Kerja

Pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab antara lain siapa yang melakukan wawancara, siapa yang mentranskripsikannya, siapa yang menentukan judul, dan apakah naskah akhir ditampilkan kembali kepada narasumber. Pihak penyusun dan penerbit masih belum memberikan penjelasan menyeluruh mengenai mekanisme editorial tersebut.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA