ISLAM LIVE – Ada ironi besar yang menyelimuti sejarah peradaban manusia: makhluk yang dianugerahi potensi intelektual tertinggi untuk melintasi angkasa kerap jatuh ke dalam lubang kehancuran moral yang tak pernah tersentuh oleh binatang mana pun di muka bumi. Serigala membunuh untuk bertahan hidup; manusia membunuh puluhan ribu sesamanya hanya demi mempertahankan gengsi politik atau melanggarkan dorongan egoismenya. Di sinilah Al-Qur’an menyampaikan sebuah vonis yang sangat mengguncang nurani: manusia tidak hanya bisa menyerupai hewan, tetapi bisa menjadi jauh lebih sesat (hina) darinya.
Dalam Surah Al-Furqan ayat 44, Allah swt menegaskan pernyataan tajam terhadap mereka yang menolak kebenaran demi menuruti hawa nafsu:
أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا
“Atau apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti hewan ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya.” (QS. Al-Furqan: 44)
Perumpamaan ini bukan sekadar cemoohan verbal, melainkan sebuah analisis psikologis yang menohok. Ketika seseorang dibutakan oleh bias ideologi, vested interest, atau kesombongan, daya kritis cerdasnya mati secara fungsional. Mereka memiliki telinga dan otak, tetapi kehilangan kapasitas logis untuk mencerna kebenaran autentik.
Logika Penolakan dan Rasionalisasi Bebal
Sikap kaku dan kebebalan ini merekah jelas dalam jejak sejarah penentangan terhadap para pembawa risalah. Ketika para penyeru kebenaran hadir membawa pesan moral yang rasional, respon yang muncul dari para penentangnya justru berupa ejekan dan standar ganda. Mereka mempertanyakan mengapa utusan Tuhan harus berupa manusia biasa yang berjalan di pasar, makan, dan memiliki kebutuhan biologis—seraya berargumen bahwa utusan seharusnya berupa malaikat yang sakti.
Padahal, logika semacam itu cacat secara mendasar. Seorang utusan haruslah berasal dari jenis yang sama agar dapat memahami penderitaan, pergulatan, dan kelemahan manusiawi. Jika utusan itu adalah malaikat yang tidak memiliki nafsu dan rasa lapar, manusia akan dengan mudah berkilah bahwa ajaran tersebut mustahil dijalankan oleh makhluk berdarah dan daging. Ejekan dan alasan bertubi-tubi itu sebenarnya hanyalah perisai psikologis untuk menutupi ketakutan mereka kehilangan status sosial dan dominasi ekonomi.
Retorika paradoksal ini terlihat ketika mereka menuduh penyeru kebaikan sebagai orang gila, namun di saat yang sama mereka memendam ketakutan luar biasa terhadap pengaruh kata-katanya. Jika sebuah ajaran benar-benar dianggap bualan orang gila, mengapa harus takut dan bersusah payah membendungnya? Kontradiksi ini menyingkap bahwa di balik penolakan tersebut, ada ego yang menolak tunduk meski akalnya sendiri sudah mengakui kebenaran itu.
Anatomi Kesesatan: Ketika Hawa Nafsu Menjadi Tuhan
Mengapa akal sehat manusia bisa tumpul sedemikian rupa? Al-Qur’an memberikan jawaban mendasar dalam Surah Al-Furqan ayat 43:
أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا
“Sudahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? Maka apakah engkau dapat menjadi pemelihara atasnya?” (QS. Al-Furqan: 43)
Menjadikan hawa nafsu sebagai tuhan tidak selalu berarti menyembah patung secara fisik. Dalam konteks modern, penyelewengan ini terjadi ketika dorongan pribadi, kepentingan kelompok, kekuasaan, dan ambisi material dijadikan sebagai filter tertinggi untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Ketika hawa nafsu bertakhta, akal tidak lagi berfungsi sebagai penuntun mencari kebenaran, melainkan sekadar alat pembenar (justification engine) atas kejahatan dan penyimpangan yang ingin dilakukan.
Sosiolog Will Durant pernah mencatat betapa manusia selalu menemukan jalan untuk menyembah sesuatu—jika bukan Tuhan, maka benda, ambisi, atau hasrat diri sendiri. Hawa nafsu adalah tuhan paling licik karena ia bersemayam di dalam dada manusia itu sendiri, menyamar sebagai keinginan yang tampak rasional.
Mengapa Lebih Sesat dari Binatang Ternak?
Pertanyaan paling mendasar yang diangkat oleh ayat ini adalah: mengapa manusia yang menyimpang dikatakan lebih sesat (adhallu sabila) daripada binatang ternak? Analisis kontekstual menyingkap lima alasan filosofis dan faktual di balik perumpamaan yang amat tajam ini:
Segi Potensi dan Takdir
Binatang diciptakan tanpa akal budi dan kemauan bebas (free will); mereka bergerak murni berdasarkan insting yang telah diprogram secara fitrah. Binatang tidak pernah diberi modal untuk menjadi malaikat, sehingga ketidakmampuan mereka mencerna ilmu abstrak adalah keterbatasan alamiah. Sebaliknya, manusia dikaruniai akal, nurani, dan kebebasan memilih. Ketika manusia membekukan akalnya dan memilih menjadi hamba insting, ia telah merosot jauh di bawah martabat kemanusiaannya.
Segi Kebermanfaatan
Binatang ternak, meski tidak berakal, memberikan kontribusi besar bagi ekosistem dan kehidupan manusia. Sapi, kambing, dan lebah memberikan susu, daging, madu, serta tenaga tanpa pernah merusak tatanan bumi. Al-Qur’an menggambarkan susu sebagai minuman murni yang keluar dari antara kotoran dan darah—sebuah simbol kemurnian manfaat. Sebaliknya, manusia yang dikuasai hawa nafsu kerap menjadi parasit destruktif yang memicu kerusakan alam dan penderitaan sesamanya.
Segi Kepatuhan pada Fitrah
Binatang tidak pernah melanggar batas-batas hukum alam yang ditetapkan baginya. Seekor serigala tidak akan membantai seluruh kawanan domba melebihi kapasitas perutnya. Namun, manusia yang diperbudak hawa nafsu tidak pernah merasa puas. Satu keputusan berdasarkan egoistis seorang pemimpin dunia dapat melenyapkan puluhan ribu nyawa manusia dalam hitungan detik—sebagaimana tragedi bom atom Hiroshima atau perang-perang destruktif sepanjang sejarah.
Segi Manipulasi dan Kepalsuan
Binatang bertindak polos tanpa kepalsuan. Binatang tidak pernah merekayasa pencitraan, menyusun narasi kebohongan untuk menutupi kejahatan, atau berpura-pura menjadi pahlawan saat sedang memangsa kawanannya. Manusia yang tersesat justru menggunakan kebolehan intelektualnya untuk membungkus kejahatan dengan bahasa kebaikan, merasionalisasi agresi, dan memutarbalikkan fakta demi pembenaran diri.
Segi Kerusakan Sistemis
Bahaya binatang selalu terbatas pada ruang dan waktu tertentu. Sebaliknya, kesesatan pemikiran dan kejahatan manusia yang dikemas secara sistematis dapat merusak tatanan sosial, menghancurkan masa depan generasi, dan meninggalkan warisan penderitaan bertahun-tahun.
Menyembuhkan Cermin Kesadaran
Vonis “lebih sesat dari binatang ternak” bukanlah titik akhir untuk membuat kita putus asa, melainkan sebuah alarm keras untuk membangunkan manusia dari tidur lelap kejahilan. Sehebat apa pun kehancuran moral yang mengancam, Al-Qur’an senantiasa membuka pintu bagi pemulihan martabat kemanusiaan melalui jalan iman, ilmu, dan pembersihan jiwa.
Akal manusia tidak akan pernah merdeka selama ia masih diperbudak oleh kepentingan sesaat dan hawa nafsu. Pembebasan sejati terjadi ketika manusia memiliki keberanian moral untuk tunduk pada kebenaran objektif, sekalipun kebenaran itu bertentangan dengan preferensi pribadinya. Sebagaimana ditegaskan oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib as:
«مَنْ أَرَادَ عِزّاً بِلاَ عَشِيرَةٍ، وَهَيْبَةً بِلاَ سُلْطَانٍ، وَغِنىً بِلاَ مَالٍ، فَلْيَنْتَقِلْ مِنْ ذُلِّ مَعْصِيَةِ اللهِ إِلَى عِزِّ طَاعَتِهِ»
“Barangsiapa menginginkan kemuliaan tanpa sanak keluarga, kewibawaan tanpa kekuasaan, dan kekayaan tanpa harta benda, maka hendaknya ia berpindah dari kehinaan maksiat menuju kemuliaan ketaatan kepada Allah.”
Pada akhirnya, pilihan ada di tangan kita sendiri: apakah kita akan membiarkan akal menunduk pada hawa nafsu dan merosot ke tingkatan yang lebih rendah dari binatang, ataukah kita memilih merawat kesadaran batin agar tetap menjadi makhluk termulia di hadapan Sang Pencipta.
