ISLAM LIVE – Tim Bocor Alus Politik Tempo berkesempatan menemui mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara langsung di kediamannya di Solo.
Pertemuan khusus yang berlangsung dalam dua kesempatan—yaitu pada 22 Juli dan 11 Agustus—menjadi panggung bagi Jokowi untuk menjawab berbagai isu sensitif yang terus menggelinding di ruang publik.
Meskipun kondisi kesehatannya belum pulih 100 persen akibat alergi kulit pecah-pecah yang dideritanya selama setahun terakhir, Jokowi tetap tampil bugar dan aktif menerima berbagai tamu dari dalam maupun luar negeri.
Dalam wawancara mendalam ini, ia blak-blakan meluruskan rumor politik yang menerpa keluarganya, hubungannya dengan Presiden Prabowo Subianto, hingga polemik keaslian ijazah UGM miliknya.
Hubungan Jokowi – Prabowo: Retak atau Hanya Sibuk?
Dinamika hubungan antara Jokowi dan Presiden Prabowo Subianto kerap diterpa isu miring. Publik sempat menyoroti laporan utama Tempo pada 21 Juni 2026 bertajuk “panas dingin” hubungan keduanya, yang mengulas jarangnya mereka bertemu empat mata.
Muncul pula rumor mengenai adanya “tembok pembatas” di lingkaran terdekat Prabowo, salah satunya oleh Mayor Teddy, yang membatasi akses komunikasi.
Jokowi dengan santai membantah kabar keretakan tersebut. Menurutnya, hubungan mereka berdua tetap terjalin dengan baik. Jarangnya pertemuan empat mata setelah pelantikan semata-mata disebabkan oleh kesibukan masing-masing yang sangat padat.
“Pak Prabowo sangat sibuk, saya juga meskipun pensiunan seperti ini bukan pengangguran. Dari pagi sampai tengah malam saya juga kerja terus,” ujar Jokowi.
Ia juga menegaskan pentingnya memberikan keleluasaan penuh bagi Presiden Prabowo untuk memimpin dan mengelola negara tanpa intervensi.
Pencalonan Gibran dan Bantahan Keterlibatan Ibu Iriana
Salah satu topik paling hangat yang dikonfirmasi dalam wawancara ini adalah proses di balik pencalonan Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden. Jokowi mengungkapkan bahwa gagasan menduetkan Prabowo dan Gibran datang langsung dari kubu Prabowo. Bahkan, Jokowi menyebut Prabowo secara pribadi meminta hal tersebut hingga lima kali.
“Alasannya, kalau tidak diambil (Gibran), koalisinya akan pecah,” ungkap Jokowi menirukan argumen Prabowo saat itu.
Jokowi juga sempat mewanti-wanti Prabowo agar menghitung kalkulasi politiknya secara matang agar tidak menyalahkan Gibran jika terjadi kegagalan atau kendala di kemudian hari.
Pada kesempatan yang sama, Jokowi membantah keras keterlibatan Ibu Iriana dalam urusan politik taktis, seperti melobi relawan atau organisasi tertentu demi memuluskan jalan sang anak. Ia menegaskan bahwa urusan Ibu Iriana murni seputar keluarga, hobi tanaman anggrek, serta doa seorang ibu untuk anak-anaknya.
Membangun Visi Masa Depan Bersama PSI
Meskipun telah melepas jabatan presiden, Jokowi menegaskan dirinya tidak akan pensiun dari dunia politik. Ia memilih aktif memberikan kontribusi melalui Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Keputusannya untuk turun langsung melakukan safari politik ke daerah-daerah seperti Tegal, Lampung, dan NTT didasari oleh kalkulasi elektoral dan kedekatan emosional.
Jokowi melihat PSI memiliki potensi besar untuk menjadi wadah politik masa depan.
“Saya ingin berusaha keras mendorong agar PSI ini menjadi partai masa depan, partainya anak-anak muda, partainya orang kampung, partainya keluarga Indonesia,” jelasnya.
Mantan Wali Kota Solo ini optimis bahwa dengan pengenalan struktur yang makin masif hingga tingkat desa, PSI mampu menembus parlemen dan menargetkan masuk posisi lima besar pada Pemilu 2029.
Sikap Santai Pasca-Pemecatan dari PDIP
Langkah politik Jokowi yang kini berseberangan dengan PDI Perjuangan (PDIP) berujung pada pemecatan dirinya dari partai berlambang banteng moncong putih tersebut.
Jokowi menceritakan bahwa ia mengetahui keputusan pemecatan tersebut setelah menerima surat fisik yang dikirimkan langsung kepadanya.
Menanggapi pemecatan tersebut, Jokowi mengaku bersikap biasa saja dan tidak menyimpan kemarahan. Terkait hubungannya dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, Jokowi mengakui bahwa hingga kini memang belum ada pertemuan kembali di antara mereka. Namun, ia optimis rekonsiliasi itu akan terjadi pada waktunya.
“Saya meyakini suatu saat pasti akan bertemu untuk kepentingan yang lebih besar, yaitu untuk bangsa dan negara,” tuturnya.
Catatan:
Redaksi berita di atas disusun sepenuhnya berdasarkan materi primer dari tayangan Wawancara Khusus Bocor Alus dengan Jokowi yang diproduksi oleh tim jurnalisme investigasi Tempo.
Tim Pewawancara (Bocor Alus Politik): Stefanus Pramono, Husen Abri Dongoran, Fransiska Kristi Resana, dan Remono Sri.
Waktu & Lokasi Wawancara: Dilaksanakan langsung di kediaman Joko Widodo di Solo pada 22 Juli dan 11 Agustus
Hak Cipta Produksi: Tempo Media Group / YouTube Tempo.co
