ISLAM LIVE – Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, menyampaikan keprihatinan mendalam atas tingginya angka kematian bayi di Indonesia yang disebabkan oleh kelainan jantung bawaan (PJB). Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, tercatat sekitar 6.000 bayi meninggal dunia setiap tahun akibat tidak mendapatkan tindakan operasi yang mendesak.
“Data ini menjadi pengingat bahwa masih banyak anak Indonesia yang kehilangan kesempatan hidup akibat keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan. Ini adalah persoalan yang harus menjadi perhatian bersama,” ujar Netty dalam keterangan tertulis, Selasa (4/8).
Berdasarkan estimasi, dari sekitar 4,8 juta kelahiran tiap tahunnya, diperkirakan ada 48.000 bayi lahir dengan kelainan jantung bawaan. Dari angka tersebut, kurang lebih 12.000 bayi memerlukan tindakan operasi segera. Sayangnya, kapasitas layanan operasi jantung anak di Tanah Air saat ini baru sanggup mengakomodasi sekitar 6.000 kasus dalam setahun.
“Artinya, masih terdapat kesenjangan besar antara kebutuhan layanan dengan kapasitas yang tersedia. Kesenjangan inilah yang harus segera diperkecil melalui penguatan sistem pelayanan kesehatan. Deteksi dini merupakan langkah yang sangat penting. Semakin cepat penyakit diketahui, semakin besar peluang bayi memperoleh penanganan yang tepat sebelum kondisinya memburuk,” ujarnya.
Kendati deteksi dini krusial, Netty mengingatkan bahwa upaya skrining harus diimbangi dengan perluasan kapasitas layanan rujukan agar pasien tidak terjebak dalam antrean panjang.
“Jangan sampai semakin banyak bayi yang terdeteksi, tetapi justru harus menunggu terlalu lama karena keterbatasan ruang operasi, tenaga medis, atau fasilitas yang tersedia. Skrining harus berjalan seiring dengan penguatan layanan kuratif,” tegasnya.
Untuk mengatasi disparitas tersebut, pemerintah didorong agar mempercepat pemerataan infrastruktur medis, meningkatkan mutu rumah sakit rujukan, serta mengakselerasi pencetakan dokter spesialis, subspesialis, hingga tenaga penunjang khusus seperti perawat jantung dan perfusionist.
“Kita membutuhkan strategi jangka panjang dalam membangun kapasitas layanan jantung anak. Investasi pada sumber daya manusia kesehatan sama pentingnya dengan pembangunan sarana dan prasarana,” ujarnya.
Sebagai penutup, Netty menekankan pentingnya efisiensi alur rujukan agar kendala geografis maupun birokratis tidak merenggut kesempatan hidup anak-anak penderita PJB.
“Jangan sampai faktor jarak, keterbatasan fasilitas, atau panjangnya antrean operasi menjadi penyebab hilangnya kesempatan hidup seorang anak. Sistem rujukan harus responsif, cepat, dan merata di seluruh Indonesia,” katanya.
