ISLAM LIVE – Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, angkat bicara mengenai dinamika tingkat kepuasan publik (approval rating) terhadap pemerintah serta berbagai isu strategis lainnya.
Dalam sebuah diskusi di kanal YouTube Total Politik, Hasan menekankan pentingnya efektivitas program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai kunci untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Menanggapi rilis survei yang menunjukkan penurunan approval rating dari angka di atas 80% menjadi kisaran 51%, Hasan menilai hal tersebut sebagai fenomena wajar pasca-periode “bulan madu” politik.
Menurutnya, fluktuasi angka tersebut sangat bergantung pada isu yang sedang berkembang, termasuk pro-kontra terkait program unggulan pemerintah.
Optimisme pada Badan Gizi Nasional
Hasan mengungkapkan keyakinannya bahwa penunjukan Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) akan membawa dampak positif yang signifikan. Ia memprediksi tingkat kepercayaan publik akan kembali meningkat atau bounce back seiring dengan perbaikan tata kelola program MBG.
“Saya yakin dengan kepemimpinan yang baru ini di bawah kepemimpinan Mas Sudaryono dan ini bisa berjalan jauh lebih baik… ini akan bounce back,” ujar Hasan Nasbi dalam salah satu kutipan di video tersebut.
Ia menambahkan bahwa Sudaryono memiliki kemampuan teknokratis sekaligus pendekatan kultural yang matang untuk memimpin lembaga tersebut.
Hasan juga menekankan pentingnya integritas dalam pengelolaan anggaran besar di BGN agar tidak terjadi penyimpangan moral.
Dalam kesempatan tersebut, Hasan juga memberikan klarifikasi mengenai penggunaan istilah “Londo Ireng” yang sempat dilontarkan Presiden. Ia menegaskan bahwa pernyataan Presiden tidak ditujukan untuk melabeli profesi wartawan atau pengamat secara umum.
“Presiden tidak sedang melabel wartawan sebagai Londo Ireng, presiden juga tidak melabel pengamat LSM sebagai Londo Ireng,” jelas Hasan.
Ia menerangkan bahwa istilah tersebut merujuk pada individu yang bekerja demi kepentingan asing, namun sering kali menyamar dengan berbagai atribut profesi.
Hasan Nasbi juga menyoroti fenomena hiper-realitas, di mana masyarakat cenderung lebih mempercayai narasi atau tontonan di media sosial dibandingkan dengan pengalaman nyata yang mereka alami sendiri.
Ia mencontohkan bagaimana keluhan mengenai kualitas BBM atau program MBG bisa menjadi viral dan dianggap sebagai kebenaran umum, meskipun pengalaman pribadi banyak orang tidak menunjukkan masalah yang sama.
“Ada satu titik nanti orang akan lebih percaya dunia tontonan daripada dunia nyata itu yang disebut dengan hyper-reality,” ungkapnya.
Terkait isu keretakan hubungan antara Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto, Hasan memastikan bahwa hingga saat ini hubungan keduanya tetap solid.
Ia menilai gestur komunikasi yang dilakukan oleh figur-figur seperti Sudaryono, yang tetap menjaga silaturahmi ke Solo, merupakan bukti cairnya hubungan politik di tingkat elit.
Hasan menutup diskusi dengan menekankan bahwa pemerintah sangat terbuka terhadap kritik dari masyarakat sipil sebagai bagian dari kesehatan demokrasi, meskipun ia menyarankan agar gagasan alternatif sebaiknya disalurkan melalui jalur politik yang resmi agar lebih teruji oleh dukungan rakyat.
