ISLAM LIVE – Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah menjadikan penanganan anak putus sekolah sebagai agenda strategis nasional. Pernyataan itu disampaikan menyusul temuan sekitar 6.000 anak putus sekolah di Kota Bogor yang mayoritas disebabkan rendahnya minat belajar.
Menurut Puan, persoalan pendidikan tidak lagi hanya berkaitan dengan akses dan biaya. Tantangan terbesar saat ini adalah menjaga motivasi anak agar tetap bersekolah.
“Persoalan pendidikan hari ini tidak lagi semata-mata berkaitan dengan ketersediaan sekolah, bantuan pendidikan, atau akses belajar,” kata Puan dalam keterangannya, Selasa (28/07/2026).
Puan menilai pemerintah perlu menetapkan penurunan angka anak tidak sekolah (ATS) sebagai indikator utama pembangunan sumber daya manusia. Ia juga mengusulkan penyusunan Grand Design Nasional Penuntasan Anak Tidak Sekolah hingga 2045 sebagai peta jalan lintas sektor.
“Pemerintah perlu menetapkan penurunan angka ATS sebagai salah satu indikator utama keberhasilan pembangunan sumber daya manusia,” ujarnya.
Selain itu, Puan meminta pemerintah mengubah pendekatan dari sekadar menangani anak yang sudah putus sekolah menjadi mencegah anak meninggalkan bangku pendidikan. Menurutnya, data pendidikan perlu diintegrasikan dengan data perlindungan sosial agar intervensi dapat dilakukan sejak dini.
“Negara tidak boleh kehilangan satu generasi hanya karena terlambat menyadari anak-anak mulai meninggalkan sekolah dan anak-anak putus sekolah karena keadaan. Setiap anak yang putus sekolah adalah alarm bagi negara untuk hadir lebih cepat dan bekerja lebih terpadu,” pungkasnya.
