ISLAM LIVE – Kemungkinan pecahnya kembali perang di Yaman dinilai akan menghadirkan tantangan yang lebih berat bagi kelompok Houthi dibandingkan beberapa tahun lalu. Sejumlah analis menilai perubahan kondisi politik dan militer selama masa gencatan senjata telah memperkuat posisi pemerintah Yaman beserta faksi-faksi anti-Houthi.
Senior Yemen Analyst di International Crisis Group, Ahmed Nagi, mengatakan pemerintah Yaman kini menunjukkan koordinasi yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Menurutnya, berkurangnya perpecahan di internal pemerintahan menjadi salah satu faktor yang dapat mengubah dinamika konflik apabila perang kembali pecah.
“Dibandingkan dengan awal tahun ini, Dewan Kepemimpinan Presiden tidak terlalu terpecah belah, dan pengambilan keputusan tampak lebih terkoordinasi.” kata Nagi seperti lansiran Al Jazeera pada 27/7/2026 .
Ia menambahkan bahwa Arab Saudi kini berperan sebagai aktor regional utama yang bekerja lebih erat dengan berbagai faksi anti-Houthi. Menurut Nagi, kondisi tersebut menempatkan pemerintah Yaman pada posisi yang lebih kuat dibandingkan sebelumnya dan berpotensi menyulitkan Houthi apabila konfrontasi militer kembali terjadi.
Nagi menilai hasil perang nantinya akan sangat bergantung pada cara pemerintah Yaman mengelola operasi militernya. Jika kampanye dilakukan dengan koordinasi yang lebih baik serta strategi yang terpadu, tekanan terhadap Houthi dapat meningkat sekaligus menggeser keseimbangan kekuatan di lapangan.
Dalam beberapa hari terakhir, ketegangan di Yaman kembali meningkat setelah Houthi mengklaim menyerang dua kapal Saudi di Laut Merah menggunakan rudal dan pesawat nirawak. Pada saat yang sama, bentrokan juga terjadi antara pasukan Houthi dan pasukan yang berafiliasi dengan pemerintah Yaman di Provinsi Dhale, memunculkan kekhawatiran bahwa konflik berskala penuh dapat kembali pecah setelah empat tahun masa relatif tenang.
