Airlangga: Penguatan Industri Nasional Jadi Kunci Hilirisasi dan Ketahanan Energi

0 views
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membuka P3DN Summit di Jakarta.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan penguatan industri nasional menjadi kunci hilirisasi dan ketahanan energi saat membuka P3DN Summit di Jakarta.

ISLAM LIVE – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendorong penguatan kapabilitas industri dalam negeri. Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat hilirisasi dan mendukung swasembada energi nasional.

Upaya itu ditempuh melalui kebijakan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) dan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Kebijakan tersebut menjadi bagian dari transformasi ekonomi dalam Asta Cita.

Menurut Airlangga, penguatan industri nasional menjadi semakin penting. Alasannya, ketidakpastian global masih dipengaruhi dinamika geopolitik. Kondisi itu juga berpotensi mengganggu rantai pasok energi dunia.

“Kita lihat bahwa ketidakpastian dan ketidakprediksian dunia ini masih terus berjalan. Oleh karena itu bagi Pertamina menjadi penting untuk mencari sumber-sumber diversifikasi energi. Terima kasih juga dengan implementasi B50 dan selesainya RDMP di Balikpapan, maka ketergantungan terhadap solar menjadi hilang. Jadi kita sudah bisa produksi sendiri,” ujar Airlangga saat membuka P3DN Summit di Jakarta, Rabu (22/07/2026).

Selain memperkuat ketahanan energi, pemerintah juga menjaga daya beli masyarakat. Salah satunya melalui penyediaan BBM bersubsidi.

Pemerintah juga menetapkan harga khusus solar sebesar Rp15.000 per liter. Kebijakan itu berlaku bagi kapal nelayan berukuran 30 hingga 200 GT.

Airlangga menilai energi menjadi fondasi utama pembangunan nasional. Menurutnya, sektor industri maupun digitalisasi bergantung pada ketersediaan energi.

Baca Juga:  BSI Siapkan Layanan Simpanan Emas Fisik, Tunggu Izin OJK

“Karena infrastruktur untuk ekonomi yang pertama energi, yang kedua energi, yang ketiga energi. Mau itu industri, mau itu digitalisasi, semuanya yang pertama energi dulu, kemudian infrastruktur berikut adalah listrik, baru kita bisa bangun mulai industri dan yang lain. Jadi ini adalah bedrock Indonesia adalah Pertamina,” katanya.

Selain itu, Airlangga menyoroti belanja modal sektor migas dan petrokimia. Menurutnya, belanja tersebut masih didominasi produk dan jasa rekayasa dari luar negeri.

Karena itu, pemerintah mendorong sinergi antarkementerian dan lembaga. Tujuannya untuk meningkatkan kapasitas industri nasional.

Dengan demikian, industri dalam negeri dapat mengambil porsi lebih besar pada proyek Engineering, Procurement, and Construction (EPC).

Airlangga juga menilai proyek strategis, seperti Andaman Project di lepas pantai Aceh, perlu melibatkan industri nasional. Selain itu, proyek tersebut diharapkan menyerap lebih banyak tenaga kerja lokal.

“Kita ingin agar pekerjaan ini diambil oleh engineers-engineers Indonesia. Kemudian beberapa alat yang juga sudah kita siap, tentunya di Indonesia sudah punya wellhead, sudah punya valve, punya pressure vessel dan juga chemicals project ataupun product. Sehingga tentu ini diharapkan kemampuan dan juga multiplier effect dari project betul-betul bisa dimanfaatkan oleh industri dalam negeri,” ujarnya.

Baca Juga:  BI Resmi Lantik 12 Pejabat Baru, Perry Tekankan Sinergi

Airlangga menambahkan perekonomian Indonesia tetap menunjukkan kinerja yang kuat. Hal itu terlihat di tengah berbagai tantangan global.

Pada triwulan I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year on year). Sementara itu, inflasi tetap berada di bawah 3,5 persen.

Pemerintah juga menyiapkan insentif fiskal. Bentuknya berupa tarif bea masuk nol persen selama enam bulan.

Kebijakan tersebut berlaku untuk sejumlah bahan baku petrokimia. Di antaranya LPG, polipropilena, dan polietilena.

Pemerintah berharap kebijakan itu dapat menekan biaya produksi industri kemasan. Selain itu, langkah tersebut juga diharapkan membantu pengendalian inflasi.

Menutup sambutannya, Airlangga mengatakan Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan daya saing. Menurutnya, peluang itu didukung harga energi yang kompetitif, ketersediaan tenaga kerja, dan berkembangnya ekosistem kecerdasan artifisial (AI).

“Jadi inilah kesempatan yang hanya bisa kita panen 3 sampai 4 tahun ke depan. Sesudah itu dunia berubah lagi. Oleh karena itu kita manfaatkan dan kita kerja keras. Dan kuncinya adalah kemampuan daripada engineering dan capital goods, barang modal di Indonesia,” pungkasnya.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA