Basyar: Ketika Al-Qur’an Mengingatkan Bahwa Kita Semua Hanya Manusia

25 views

ISLAM LIVE– Pernahkah kita bertanya mengapa Al-Qur’an tidak selalu menyebut manusia dengan kata yang sama? Ada saatnya digunakan kata insan, pada kesempatan lain an-nas, dan di banyak ayat muncul kata basyar. Sekilas semuanya berarti “manusia”. Namun, seperti lazimnya bahasa Al-Qur’an, tidak ada pilihan kata yang hadir secara kebetulan.

Kata basyar justru mengajak kita memulai perjalanan dari sesuatu yang paling kasatmata: kulit.

Bukan pikiran. Bukan jiwa. Bukan pula kedudukan. Melainkan lapisan paling luar yang membungkus tubuh manusia.

Dalam bahasa Arab, basyarah berarti permukaan kulit. Dari akar kata itulah lahir istilah basyar, sebutan bagi makhluk yang kulitnya tampak jelas, tidak diselimuti bulu tebal seperti kebanyakan hewan. Barangkali terdengar sebagai penjelasan bahasa semata. Namun ketika kata itu masuk ke dalam Al-Qur’an, ia berubah menjadi cara pandang tentang siapa sesungguhnya manusia.

Allah berfirman,

إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ

“Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah” (QS. Shad: 71)

Ada kesan yang begitu membumi dalam ayat ini. Al-Qur’an seolah tidak sedang memperlihatkan keagungan manusia, tetapi justru mengingatkan asal-usulnya. Sebelum mengenal nama, jabatan, kekayaan, atau ilmu, manusia hanyalah tubuh yang dibentuk dari unsur bumi. Ia bernapas, bergerak, lalu suatu hari akan kembali menjadi tanah.

Kesadaran itu perlahan meruntuhkan kesombongan. Sebab jika seluruh manusia berasal dari bahan yang sama, atas dasar apa seseorang merasa lebih tinggi daripada yang lain?

Namun sejarah menunjukkan, manusia justru sering terjebak pada penilaian yang dangkal. Hampir setiap nabi menghadapi keberatan yang serupa. Bukan karena ajarannya mudah dipatahkan, melainkan karena penampilannya dianggap terlalu biasa.

“Mengapa utusan Tuhan hanyalah manusia seperti kita?”

Pertanyaan itu berulang dalam berbagai kisah Al-Qur’an. Seolah-olah mereka menginginkan seorang nabi yang turun dari langit dengan sayap malaikat atau cahaya yang menyilaukan. Mereka sulit menerima bahwa seorang pembawa wahyu tetap makan, berjalan di pasar, merasakan lapar, dan mengalami kesedihan.

Baca Juga:  Api yang Padam: Metafora Al-Qur’an tentang Kemunafikan di Era Pencitraan

Lalu turunlah penegasan yang hingga kini tetap terasa begitu kuat:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ

“Katakanlah, sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kalian; hanya saja telah diwahyukan kepadaku…” (QS. Al-Kahfi: 110)

Ayat ini seakan membelah manusia menjadi dua lapisan. Lapisan pertama adalah basyar tubuh yang sama-sama lemah, sama-sama menua, sama-sama membutuhkan makan dan istirahat. Pada lapisan itu, Nabi Muhammad saw tidak berbeda dengan siapa pun.

Namun ada lapisan kedua yang tidak dimiliki semua orang: wahyu.

Di situlah letak kemuliaan manusia. Bukan pada kulit yang tampak, melainkan pada cahaya yang menerangi batinnya.

Di titik ini, pesan Al-Qur’an terasa begitu relevan dengan kehidupan modern. Kita hidup pada zaman ketika wajah sering lebih dipercaya daripada isi kepala. Penampilan menjadi mata uang baru. Foto yang dipoles, citra yang dibangun, dan kehidupan yang dikurasi perlahan membentuk ukuran tentang siapa yang dianggap berhasil.

Ironisnya, semakin besar perhatian manusia pada kulit, semakin sedikit perhatian diberikan kepada isi.

Padahal Al-Qur’an justru memulai pembicaraan tentang basyar untuk mengatakan bahwa tubuh hanyalah titik awal, bukan tujuan akhir.

Menariknya, akar kata yang sama melahirkan makna yang sama sekali berbeda: busyra, kabar gembira.

Hubungan keduanya ternyata sangat manusiawi. Ketika seseorang menerima berita yang membahagiakan, perubahan pertama muncul bukan pada ucapannya, melainkan pada wajahnya. Kulitnya seakan hidup. Sorot matanya berubah. Wajah yang semula muram mendadak memancarkan cahaya.

Bahasa Arab menangkap fenomena itu dengan sangat peka. Kabar yang membahagiakan disebut busyra karena ia membuat basyarah permukaan wajahberubah.

Karena itu Al-Qur’an berkali-kali menggunakan ungkapan:

فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ

“Maka sampaikanlah kabar gembira kepadanya berupa ampunan dan pahala yang mulia” (QS. Yasin: 11)

Harapan, rupanya memang selalu memiliki wajah.

Seseorang yang yakin akan rahmat Allah berjalan dengan langkah yang berbeda. Beban hidupnya mungkin sama, tetapi hatinya memiliki ruang yang lebih lapang. Dari dalam batin itulah ketenangan merembes ke luar, lalu tampak pada senyum, tatapan, dan kelembutan sikap.

Baca Juga:  Mengapa Al-Qur’an Menyebut Kehidupan Dunia Sebagai Sebuah Tipuan?

Dalam konteks yang lebih luas, Al-Qur’an juga menunjukkan betapa dahsyatnya kekuatan bahasa. Kadang ungkapan “berilah kabar gembira” justru dipakai untuk menyampaikan ancaman kepada orang-orang yang menolak kebenaran. Bukan karena azab itu membahagiakan, melainkan sebagai ironi yang mengguncang kesadaran. Seolah-olah manusia dipaksa berhenti sejenak dan bertanya: masihkah ada waktu untuk mengubah arah sebelum berita itu benar-benar menjadi kenyataan?

Bahasa yang sama juga melahirkan istilah mubasyarah, yang secara harfiah berarti bersentuhnya dua kulit. Al-Qur’an memakainya sebagai ungkapan yang santun untuk hubungan suami istri. Sekali lagi, kita melihat bagaimana wahyu tidak hanya mengajarkan hukum, tetapi juga mengajarkan cara berbicara dengan penuh adab. Hal-hal yang paling pribadi pun disampaikan tanpa kehilangan kehormatan.

Semakin jauh menelusuri akar kata basyar, semakin tampak bahwa Al-Qur’an sedang merangkai satu jaringan makna yang utuh. Kulit, manusia, sentuhan, wajah yang berseri, kabar gembira, hingga fajar yang mulai merekah, semuanya berasal dari akar yang sama. Seakan-akan bahasa itu hendak mengatakan bahwa apa yang tampak di permukaan selalu berawal dari sesuatu yang bergerak di kedalaman.

Mungkin itulah sebabnya Al-Qur’an tidak berhenti pada penyebutan manusia sebagai basyar. Sebab jika manusia hanya sibuk mengurus kulitnya, ia tidak berbeda dari tubuh yang suatu hari akan kembali menjadi debu. Yang membuat hidup bernilai adalah apa yang tumbuh di balik kulit itu: iman yang terus belajar, akal yang terus mencari kebenaran, dan amal yang perlahan mengubah dunia di sekitarnya.

Pada akhirnya, setiap orang memang lahir sebagai basyar. Itu bukan pilihan dan bukan pula prestasi.

Tetapi menjadi manusia yang diterangi petunjuk adalah perjalanan seumur hidup.

Dan mungkin, di hadapan Allah, wajah yang paling indah bukanlah wajah yang paling sempurna bentuknya, melainkan wajah yang paling sering memantulkan cahaya harapan, kejujuran, dan ketundukan kepada-Nya.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA