ISLAM LIVE – Ada jarak yang bisa ditempuh dengan kendaraan, diukur dengan kilometer, bahkan dipersingkat oleh teknologi. Namun ada pula jarak yang tak pernah muncul di peta. Ia tumbuh diam-diam di dalam hati. Semakin jauh seseorang melangkah darinya, semakin sulit pula ia menemukan jalan pulang.
Bahasa Arab memiliki satu kata yang kaya makna untuk menggambarkan keadaan itu: bu’d jarak atau kejauhan. Pada mulanya, kata ini memang menunjuk pada sesuatu yang sederhana: lawan dari kedekatan. Tetapi Al-Qur’an mengangkat makna itu jauh melampaui persoalan ruang. Jarak ternyata bukan sekadar soal lokasi. Ia bisa menjadi keadaan batin, ukuran moral, bahkan nasib seseorang.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menganggap jauh hanya sebagai persoalan fisik. Rumah yang berjauhan, kota yang berbeda, atau negara yang dipisahkan lautan. Padahal manusia modern justru memperlihatkan ironi yang mencolok. Kita dapat berbicara dengan seseorang di belahan dunia lain hanya dalam hitungan detik, tetapi tetap merasa asing terhadap orang yang duduk di samping kita. Teknologi berhasil mendekatkan tubuh, tetapi tidak selalu mendekatkan jiwa.
Al-Qur’an menggunakan kata bu’d untuk menjelaskan kenyataan yang jauh lebih serius daripada sekadar ruang geografis. Tentang orang-orang yang menolak petunjuk, Allah berfirman:
ضَلُّوا ضَلَالًا بَعِيدًا
“Mereka telah tersesat dengan kesesatan yang sangat jauh” (QS. An-Nisa: 167)
Menariknya, ayat ini tidak hanya menyebut “tersesat”, melainkan “tersesat dengan kesesatan yang jauh”. Seolah-olah seseorang telah berjalan begitu lama menjauhi jalan yang benar hingga titik awalnya nyaris tak terlihat lagi. Bukan sekadar salah arah, tetapi sudah terlalu jauh meninggalkan kompas kehidupan.
Perumpamaan itu sangat dekat dengan pengalaman manusia. Ketika seseorang baru melakukan satu kesalahan, ia masih mudah kembali. Hatinya masih peka. Penyesalan masih hidup. Tetapi jika kesalahan itu terus diulang, perlahan ia menjadi kebiasaan. Yang semula terasa berat berubah menjadi biasa. Yang dahulu dianggap dosa akhirnya dianggap hak. Di situlah jarak itu bertambah sedikit demi sedikit, hampir tanpa disadari.
Dalam ayat lain, Al-Qur’an menggambarkan keadaan orang yang menolak kebenaran seperti seseorang yang dipanggil dari tempat yang sangat jauh.
أُولَئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ
“Mereka seperti dipanggil dari tempat yang jauh” (QS. Fussilat: 44)
Bayangan ini begitu puitis sekaligus menyentuh. Bukan karena suara petunjuk itu lemah, melainkan karena hati mereka telah berada terlalu jauh untuk mendengarnya. Semakin besar jarak batin, semakin samar pula suara kebenaran. Persoalannya bukan pada cahaya yang redup, tetapi pada mata yang memilih berpaling.
Di titik ini, makna jarak berubah menjadi cermin kondisi spiritual. Kedekatan kepada Tuhan tidak pernah ditentukan oleh lokasi. Seseorang dapat tinggal di sekitar masjid, tetapi hatinya jauh dari Allah. Sebaliknya, ada yang hidup di tengah hiruk-pikuk dunia, namun hatinya selalu merasa dekat dengan-Nya.
Dalam bahasa Arab klasik, kata ba’ida juga digunakan sebagai ungkapan bagi kematian atau kebinasaan. Orang yang binasa disebut telah “menjauh”. Karena itu Al-Qur’an berkali-kali menggunakan doa yang berbunyi:
فَبُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
“Maka binasalah kaum yang zalim” (QS. Al-Mu’minun: 41)
Ungkapan ini bukan sekadar kutukan emosional. Ia menggambarkan kenyataan bahwa kebinasaan sejatinya adalah keadaan ketika manusia semakin jauh dari rahmat Allah. Azab bukan hanya penderitaan yang datang di akhir perjalanan, melainkan buah dari jarak yang terus dipelihara sepanjang hidup.
Dalam konteks yang lebih luas, Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa sebuah masyarakat tidak pernah benar-benar aman dari nasib buruk hanya karena merasa berbeda dari generasi sebelumnya. Kepada kaum Nabi Syuaib a.s disampaikan peringatan:
وَمَا قَوْمُ لُوطٍ مِنْكُمْ بِبَعِيدٍ
“Kaum Luth itu tidak jauh dari kalian” (QS. Hud: 89)
Maksudnya bukan sekadar bahwa mereka hidup di wilayah yang berdekatan. Yang lebih penting, mereka memiliki penyakit moral yang serupa. Ketika penyebabnya sama, akibatnya pun bisa sama. Sejarah tidak selalu berulang karena tempatnya sama, tetapi karena manusia mengulang kesalahan yang sama.
Inilah pelajaran yang sering luput dari perhatian kita. Kita gemar membaca kisah-kisah kehancuran umat terdahulu seolah semuanya adalah cerita masa lampau. Padahal Al-Qur’an justru mengajak pembacanya mencari kedekatan, bukan dalam arti geografis, melainkan kesamaan karakter. Jika kesombongan, kezaliman, dan penolakan terhadap kebenaran masih hidup di tengah masyarakat, maka jarak waktu ribuan tahun tidak membuat manusia benar-benar jauh dari nasib mereka.
Barangkali itulah sebabnya mengapa Islam selalu menekankan pentingnya menjaga hati. Jarak menuju kesesatan hampir tidak pernah terjadi dalam satu langkah besar. Ia dimulai dari langkah-langkah kecil yang dibiarkan. Sedikit mengabaikan nurani, sedikit menunda tobat, sedikit membenarkan kesalahan, hingga akhirnya hati terbiasa hidup jauh dari cahaya.
Sebaliknya, perjalanan kembali kepada Allah juga tidak selalu dimulai dengan lompatan besar. Ia lahir dari keberanian untuk berhenti, mengakui kesalahan, lalu mengambil satu langkah menuju kedekatan. Jalan pulang selalu tersedia selama manusia masih mau bergerak ke arahnya.
Pada akhirnya, ukuran hidup bukanlah seberapa jauh kita telah mengembara, melainkan ke arah mana langkah itu membawa kita. Sebab ada orang yang tampak berhasil menjelajahi dunia, tetapi kehilangan dirinya sendiri. Ada pula yang hidup sederhana, namun hatinya begitu dekat dengan Tuhan sehingga tidak pernah merasa tersesat.
Mungkin itulah makna terdalam dari bu’d dalam Al-Qur’an. Jarak yang paling berbahaya bukanlah antara satu kota dengan kota lain, melainkan antara hati manusia dan kebenaran. Dan selama jarak itu masih bisa diperkecil, selalu ada harapan untuk menemukan jalan pulang.
