Ketika Kesombongan Menipu Manusia (Bag. 1): Kisah Al-Qur’an tentang Kesombongan, Syukur, dan Kehancuran

6 views

ISLAM LIVE – Ada masa ketika manusia merasa telah sampai pada puncak keberhasilan. Harta bertambah, usaha berkembang, pengaruh meluas, dan hidup terasa berada dalam genggaman. Namun justru pada titik itulah sebuah ujian paling halus datang: apakah manusia masih mengingat siapa yang memberi semua itu, atau mulai menganggap dirinya sebagai pemilik mutlak?

Al-Qur’an menggambarkan salah satu potret manusia seperti itu melalui kisah dua pemilik kebun dalam Surah Al-Kahfi ayat 32–44. Kisah ini bukan sekadar cerita tentang dua orang dengan nasib berbeda. Ia adalah cermin tentang bagaimana manusia memandang nikmat: apakah sebagai amanah atau sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi dari orang lain.

Allah swt berfirman:

وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلًا رَّجُلَيْنِ جَعَلْنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا ۝ كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا وَلَمْ تَظْلِم مِّنْهُ شَيْئًا وَفَجَّرْنَا خِلَالَهُمَا نَهَرًا

“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan tentang dua orang laki-laki. Kami berikan kepada salah seorang di antara keduanya dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma serta Kami adakan di antara keduanya ladang. Kedua kebun itu menghasilkan buahnya dan tidak berkurang sedikit pun hasilnya, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu.”

(QS. Al-Kahfi: 32–33)

Gambaran itu adalah gambaran kemakmuran yang hampir sempurna. Kebun yang subur, air yang mengalir, hasil panen yang melimpah. Dalam bahasa modern, ia adalah simbol keberhasilan: bisnis yang tumbuh, aset yang bertambah, posisi sosial yang meningkat.

Namun persoalannya bukan pada banyaknya harta. Al-Qur’an tidak mencela kekayaan. Yang menjadi masalah adalah ketika kekayaan mengubah cara manusia melihat dirinya sendiri.

Pemilik kebun itu mulai merasa bahwa apa yang ia miliki adalah bukti keunggulan dirinya. Ia berkata kepada temannya:

Baca Juga:  Ketika Janji Diingkari: Pelajaran Al-Qur’an tentang Bahaya Memutus Komitmen Iman

أَنَا أَكْثَرُ مِنكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا

“Aku lebih banyak mempunyai harta darimu dan lebih kuat pengikutku.”

(QS. Al-Kahfi: 34)

Kalimat itu menunjukkan perubahan yang sering terjadi dalam diri manusia. Nikmat yang seharusnya membuat seseorang bersyukur justru berubah menjadi alat untuk membandingkan diri. Harta bukan lagi sesuatu yang disyukuri, tetapi menjadi ukuran nilai manusia.

Ia bahkan masuk ke dalam kebunnya dalam keadaan zalim terhadap dirinya sendiri. Ia berkata:

مَا أَظُنُّ أَن تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا

“Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya.”

Di sinilah letak kesalahan terbesar: merasa sesuatu yang sementara akan menjadi kekal. Manusia sering lupa bahwa segala yang dimiliki memiliki batas waktu. Kekuasaan berubah, kekayaan berpindah, kesehatan melemah, dan segala yang tampak kokoh pada akhirnya bisa runtuh.

Temannya yang beriman mencoba mengingatkan. Ia tidak menyerang hartanya, tetapi mengingatkan sumber dari nikmat itu:

وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

“Dan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengatakan: ‘Masya Allah, tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.’”

(QS. Al-Kahfi: 39)

Pesan ini sangat relevan bagi manusia modern. Ketika seseorang mendapatkan keberhasilan, sering kali yang terlihat hanya kerja kerasnya sendiri. Ia lupa ada banyak faktor yang berada di luar kendalinya: kesempatan, kesehatan, keadaan, bantuan orang lain, bahkan kemampuan berpikir yang menjadi modal keberhasilannya.

Syukur bukan berarti menolak usaha. Syukur adalah kesadaran bahwa usaha manusia selalu berada dalam ruang yang lebih besar dari dirinya.

Namun sang pemilik kebun tetap tenggelam dalam kesombongan. Ia yakin hartanya akan menyelamatkannya. Ia bahkan berkata:

وَلَئِن رُّدِدتُّ إِلَىٰ رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِّنْهَا مُنقَلَبًا

Baca Juga:  Ketika Al-Qur’an Menggambarkan Infak sebagai Kebun di Dataran Tinggi

“Dan sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada ini.”

(QS. Al-Kahfi: 36)

Ia tidak hanya merasa unggul di dunia, tetapi juga membawa kesombongan itu sampai pada keyakinan tentang akhirat.

Lalu datanglah perubahan yang tidak ia duga. Kebun yang selama ini menjadi sumber kebanggaan dihancurkan. Allah swt menggambarkan bagaimana seluruh kemegahan itu lenyap. Tidak ada lagi tanaman, tidak ada lagi hasil, tidak ada lagi sesuatu yang bisa dibanggakan.

Saat itulah ia baru menyadari kesalahannya:

يَا لَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا

“Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku tidak mempersekutukan Tuhanku dengan sesuatu pun.”

(QS. Al-Kahfi: 42)

Penyesalan datang ketika semuanya sudah terlambat.

Kisah dua pemilik kebun ini sesungguhnya bukan hanya tentang harta. Ia berbicara tentang penyakit manusia yang lebih dalam: lupa kepada sumber nikmat. Seseorang bisa memiliki banyak hal, tetapi kehilangan kesadaran bahwa semua itu adalah titipan.

Dalam kehidupan hari ini, “kebun” bisa berbentuk banyak hal. Bisa berupa jabatan, popularitas, ilmu, bisnis, keluarga, bahkan kemampuan yang membuat seseorang dihargai orang lain. Semua itu bisa menjadi keberkahan jika membuat manusia semakin rendah hati. Namun semuanya bisa berubah menjadi jebakan jika membuat manusia merasa tidak membutuhkan siapa pun.

Al-Qur’an menghadirkan kisah ini bukan untuk membuat manusia takut menikmati dunia. Dunia bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika dunia mengambil tempat yang seharusnya dimiliki oleh rasa syukur.

Sebab pada akhirnya, manusia bukan dinilai dari seberapa banyak yang ia kumpulkan, tetapi dari bagaimana ia memperlakukan apa yang telah diberikan kepadanya.

Nikmat yang disyukuri dapat menjadi jalan keberkahan. Tetapi nikmat yang melahirkan kesombongan bisa menjadi awal dari kehilangan.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA