Kilat yang Menyala di Langit dan Jiwa Manusia

20 views

ISLAM LIVE– Di tengah malam yang pekat, ketika langit dipenuhi awan dan udara terasa berat, sering kali seberkas cahaya tiba-tiba membelah kegelapan. Ia hadir hanya sesaat, tetapi cukup untuk mengubah suasana. Kilat atau dalam bahasa Arab disebut barq adalah salah satu fenomena alam yang paling singkat sekaligus paling memikat. Ia datang tanpa suara terlebih dahulu, lalu disusul gemuruh yang mengguncang. Namun sejak dahulu, manusia tidak hanya melihat kilat sebagai gejala cuaca. Mereka juga membacanya sebagai simbol kehidupan.

Al-Qur’an menggambarkan kilat dalam sebuah lanskap yang penuh ketegangan:

فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ

Di dalamnya ada kegelapan, petir, dan kilat” (QS. Al-Baqarah: 19)

Ayat itu menghadirkan sebuah adegan yang sangat manusiawi. Hidup sering kali bergerak di antara gelap, ketidakpastian, dan suara-suara yang menggetarkan hati. Namun di sela semuanya, selalu ada cahaya yang muncul sekejap. Tidak lama, tetapi cukup untuk menunjukkan arah.

Mungkin karena sifatnya yang demikian, kata barq dalam khazanah bahasa Arab berkembang melampaui makna meteorologis. Ia tidak lagi sekadar menunjuk cahaya yang menyambar di langit, melainkan segala sesuatu yang memancarkan kilau. Sebilah pedang yang berkilat disebut memiliki sifat bariq. Cahaya pada logam yang diasah, pantulan sinar pada permukaan air, bahkan sorot mata manusia yang bergerak cepat karena ketakutan, semuanya masuk ke dalam keluarga makna yang sama.

Di titik ini, kilat menjadi lebih dari sekadar fenomena alam. Ia berubah menjadi metafora tentang keadaan manusia.

Al-Qur’an menggunakan kata yang sama ketika menggambarkan saat-saat yang mengguncang kesadaran manusia:

فَإِذَا بَرِقَ الْبَصَرُ

Maka ketika pandangan mata terbelalak” (QS. Al-Qiyamah: 7)

Di sini, kilat tidak berada di langit, melainkan di mata. Ketika seseorang menghadapi sesuatu yang luar biasa dahsyat ketakutan, keterkejutan, atau kesadaran yang mendalam, matanya bergerak cepat dan tidak menentu. Ada semacam cahaya yang muncul dari kegelisahan itu. Bahasa Arab menangkap pengalaman psikologis tersebut dengan kata yang sama yang digunakan untuk menyebut kilatan di cakrawala.

Baca Juga:  Ba'l: Saat Kepemimpinan Berubah Menjadi Kesombongan

Dalam konteks yang lebih luas, hal ini menunjukkan bagaimana manusia dan alam sering kali berbagi bahasa simbolik yang serupa. Langit memiliki kilatnya. Jiwa manusia pun memiliki kilatnya sendiri.

Kadang-kadang kilat itu berupa inspirasi. Sebuah gagasan muncul mendadak setelah berhari-hari kebuntuan. Seorang penulis yang lama menatap halaman kosong tiba-tiba menemukan kalimat pertama. Seorang ilmuwan yang berbulan-bulan meneliti menemukan pola yang selama ini tersembunyi. Seorang pemimpin menemukan keputusan yang selama ini dicari. Semuanya datang seperti kilat: singkat, terang, dan mengubah arah perjalanan.

Namun kilat juga mengandung sisi lain. Ia mempesona, tetapi tidak bisa digenggam. Banyak orang terjebak dalam kilatan sesaat, popularitas yang cepat, kekayaan yang mendadak, atau perhatian publik yang datang tanpa diduga. Cahaya itu memukau, tetapi tidak selalu bertahan lama. Seperti kilat di langit, ia bisa lenyap sebelum sempat dipahami.

Barangkali karena itu bahasa Arab juga menggunakan akar kata yang sama untuk menggambarkan sesuatu yang berkilau akibat lapisan tipis minyak. Makanan yang diberi sedikit minyak akan tampak mengilap. Kilau itu nyata, tetapi tidak selalu menunjukkan kedalaman. Ia bisa menjadi sekadar permukaan.

Gagasan ini kemudian menyentuh salah satu persoalan besar dalam kehidupan modern: kecenderungan manusia mengagungkan penampilan dibanding substansi. Dunia digital dipenuhi berbagai bentuk kilatan. Notifikasi yang berkedip, video singkat yang viral, citra yang memikat dalam hitungan detik. Kita hidup di zaman yang menyukai cahaya cepat.

Padahal cahaya yang paling penting sering kali bukan yang paling terang, melainkan yang paling bertahan.

Baca Juga:  Mukjizat Penciptaan Nabi Isa dan Perdebatan Evolusi

Menariknya, tradisi Arab kuno juga mengenal sebuah pohon yang dijuluki baruqah. Pohon itu konon akan menghijau ketika melihat awan hujan mendekat. Karena kemampuannya merespons tanda-tanda alam lebih cepat daripada yang lain, ia menjadi simbol kepekaan. Dari sini lahir peribahasa tentang rasa syukur yang mendahului datangnya nikmat.

Ada pelajaran halus di balik kisah itu. Kilat bukan hanya soal cahaya yang tampak, melainkan kemampuan membaca pertanda. Orang bijak tidak menunggu hujan turun untuk bersiap. Ia mengenali tanda-tandanya sejak awal. Ia menangkap kilatan kecil yang sering diabaikan orang lain.

Dalam warisan Islam, akar kata yang sama juga melahirkan istilah Buraq, kendaraan yang disebut dalam kisah perjalanan agung Nabi Muhammad. Nama itu berasal dari makna cahaya dan kilatan. Apa pun hakikatnya yang sebenarnya, penamaan tersebut menunjukkan asosiasi kuat antara kecepatan, cahaya, dan kemampuan menembus batas yang biasa.

Maka kilat, dalam seluruh lapisan maknanya, selalu berbicara tentang gerak. Ia tidak diam. Ia menghubungkan satu titik dengan titik lain dalam waktu yang nyaris tak terukur. Ia mengingatkan bahwa kehidupan sering berubah bukan karena peristiwa yang berlangsung lama, melainkan karena momen singkat yang mengubah cara kita melihat dunia.

Pada akhirnya, setiap manusia mungkin pernah mengalami satu atau dua kilat dalam hidupnya. Sebuah pertemuan yang mengubah arah masa depan. Sebuah kalimat yang membuka cakrawala baru. Sebuah kesadaran yang datang tiba-tiba setelah bertahun-tahun pencarian.

Kilat memang tidak bertahan lama. Tetapi justru karena singkat itulah ia berharga. Ia hadir untuk menunjukkan jalan, bukan untuk menggantikan perjalanan itu sendiri. Setelah cahaya sesaat itu berlalu, manusialah yang harus melangkah, menapaki kegelapan dengan keyakinan baru yang telah disingkapkan oleh seberkas terang dari langit dan dari dalam dirinya sendiri.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA