oleh: Ramdan Nugraha
ISLAM LIVE – Pernahkah anda membayangkan sebuah dunia di mana guru memiliki kewenangan legal untuk memukul balik murid yang luar biasa kurang ajar, atau sebuah biro khusus yang bisa “menghancurkan” karier orang tua pejabat yang melindungi anak mereka yang perundung?
Fenomena ini terekam jelas dalam alur cerita drama Korea terbaru dengan judul Teach You A Lesson, sebuah narasi satir yang memotret betapa bobroknya sistem pendidikan ketika hak guru diinjak-injak dan bullying dianggap sebagai “kenakalan biasa”.
Dalam seri ini, Biro Perlindungan Hak Pendidikan (BPHP) hadir sebagai oase sekaligus “algojo” bagi para perundung yang merasa kebal hukum karena status sosial orang tua mereka.
Mulai dari kasus anak politisi yang menyebabkan kematian teman sekelasnya hingga influencer sekolah yang membunuh karakter gurunya lewat fitnah di media sosial.
Isu Bullying: Bukan Sekadar Fisik, Tapi Sistemik
Teach You A Lesson memperlihatkan bahwa bullying telah berevolusi menjadi monster yang lebih mengerikan. Tidak hanya berupa tinju di lorong sekolah, tapi juga dalam bentuk eksploitasi digital (Manusia WiFi), judi online, hingga pengedaran narkoba berkedok obat belajar.
Yang paling menyakitkan adalah keterlibatan orang tua—yang sering disebut sebagai “Monster Parents“—yang justru menjadi bekingan utama bagi perilaku menyimpang anak-anak mereka.
Realitas dalam sumber ini terasa sangat dekat dengan konteks pendidikan di Indonesia saat ini. Di tanah air, kita sering melihat berita tentang guru yang dipolisikan oleh orang tua murid hanya karena tindakan pendisiplinan ringan, serupa dengan kasus Ibu Ujin yang mengancam guru Jiseon dengan dalih kekerasan anak dalam serial drama ini.
Selain itu, fenomena “anak pejabat” yang merasa di atas hukum dan tidak tersentuh, seperti kasus perundungan di sekolah elit atau kekerasan yang melibatkan anak-anak dari keluarga berkuasa, mencerminkan kasus Ryu Jun Hong di SMA Daehan.
Di Indonesia, kita juga mulai menghadapi darurat judi online dan narkoba yang menyasar anak usia sekolah, persis seperti yang digambarkan di SMK Guun dan SMA Nakwon.
Pelajaran Moral: Perlunya Ketegasan Orang Dewasa
Pesan utama dari BPHP sangat jelas: dunia anak-anak membutuhkan orang dewasa yang berani mengambil tindakan, bukan yang hanya berpangku tangan atau mencari aman. Pendidikan bukan hanya soal nilai ujian, tetapi tentang tanggung jawab dan konsekuensi.
Jika sistem formal seperti kepolisian dan pihak sekolah gagal melindungi korban karena tekanan politik atau uang, maka integritas pendidikan akan runtuh.
Kasus-kasus di Indonesia, mulai dari perundungan fisik di pesantren hingga cyberbullying antar siswa, menunjukkan bahwa kita mungkin membutuhkan “semangat BPHP”—yaitu keberanian untuk memihak pada kebenaran dan hak-hak guru—agar sekolah kembali menjadi tempat belajar, bukan neraka bagi siswa yang lemah dan minoritas secara sosial dan ekonomi.
