ISLAM LIVE – Pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS turut memicu kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok. Di tengah kondisi tersebut, Wakil Ketua Majelis Ekonomi dan Bisnis Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Mukhaer Pakkanna, mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha agar tetap berpegang pada etika bisnis serta nilai-nilai Islam dalam menghadapi tekanan ekonomi.
“Saat ini, pasar lagi menghukum pemerintah. Akibatnya, harga terus mendaki. Apalagi kebanyakan produk kebutuhan pokok itu komponen utamanya adalah impor,” ujar Mukhaer kepada media, Sabtu 6/6/2026.
Menurutnya, kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian seharusnya tidak disikapi dengan kepanikan. Mukhaer mengimbau masyarakat melakukan penyesuaian anggaran rumah tangga dengan memprioritaskan kebutuhan yang benar-benar penting dan menghindari pembiayaan yang tidak produktif.
“Perlu restrukturisasi anggaran rumah tangga. Fokus utama pada alokasi anggaran yang genting dan penting saja. Jangan banyak konsumsi di sektor-sektor tersier. Harus dijaga. Jangan melakukan akses pembiayaan yang tidak produktif,” ucapnya.
Lebih lanjut, dia menilai fluktuasi harga merupakan bagian dari mekanisme pasar yang wajar selama tidak diwarnai praktik kecurangan. Namun, menurutnya, tantangan yang kerap muncul di Indonesia adalah adanya distorsi pasar yang membuat persaingan tidak berjalan secara adil.
“Yang jadi soal, kecurangan atau distorsi pasar sudah menjadi kelaziman dalam pasar di Tanah Air. Pasar tidak fair, karena mekanisme distribusi barang dan jasa dikuasai oleh pemilik modal raksasa,” katanya.
Meski demikian, dia mengingatkan bahwa tantangan ekonomi merupakan bagian dari dinamika dunia usaha. “Bisnis itu tidak berjalan linear. Sarat dengan liku-liku serta suka dan duka. Bukan pelaku bisnis yang sukses jika tidak pernah mengalami ujian. Banyak contoh sukses sejak zaman sahabat Rasulullah hingga era kontemporer,” ujarnya.
