ISLAM LIVE— Ada kalanya kebohongan tidak datang dalam bisikan. Ia justru hadir sebagai dentuman, keras, gaduh, dan mengoyak kesunyian batin. Kita hidup di zaman seperti itu: saat yang ganjil bukan lagi sesuatu yang disembunyikan, melainkan dipertontonkan. Di tengah riuh itu, sebuah ungkapan Al-Qur’an terasa seperti teguran yang melampaui zaman: bukan sekadar salah, tapi sebuah keganjilan yang mengguncang.
Ayat itu berbunyi:
لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا
“Sesungguhnya kalian telah membawa sesuatu yang sangat mungkar” (QS. Maryam: 89)
Ungkapan “syai’an idda” bukan sekadar penilaian moral biasa. Ia mengandung nuansa yang lebih dalam: sesuatu yang begitu ganjil, begitu melampaui batas kewajaran, hingga menimbulkan kegaduhan. Dalam akar katanya, idda berkaitan dengan suara keras, seperti unta yang mengerang panjang dan berulang karena beban atau kesakitan. Dari sini, lahir makna turunan: kegaduhan, keributan, sesuatu yang tak hanya salah, tetapi juga mengusik.
Maka, ketika Al-Qur’an menggunakan frasa ini, ia tidak sedang menunjuk kesalahan kecil. Ia sedang menyorot sebuah klaim atau tindakan yang dampaknya meluas mengguncang tatanan, memantik kegelisahan, dan merusak rasa kepantasan kolektif.
Dalam konteks ayat tersebut, ungkapan itu merujuk pada tuduhan besar yang disandarkan kepada Tuhan, sebuah pernyataan yang bukan hanya keliru, tetapi juga mengacaukan fondasi keimanan. Namun, jika ditarik ke masa kini, maknanya terasa lebih luas. Syai’an idda bisa menjadi cermin untuk membaca fenomena modern: ketika sesuatu yang jelas-jelas janggal justru dinormalisasi, bahkan dirayakan.
Lihatlah bagaimana informasi hari ini bekerja. Kebohongan tidak lagi malu-malu. Ia beredar cepat, berulang, dan semakin lama terdengar seperti kebenaran. Dalam dunia digital, kegaduhan sering kali mengalahkan kejernihan. Sesuatu yang idda; yang seharusnya mengusik nurani, justru menjadi bagian dari arus utama.
Di titik ini, menarik untuk kembali ke akar kata yang digunakan. Dalam bahasa Arab klasik, ungkapan tentang unta yang mengerang (addat an-naqah) menggambarkan suara yang keluar karena tekanan. Ia bukan suara biasa, melainkan ekspresi dari sesuatu yang berat, bahkan menyakitkan. Dari metafora ini, kita bisa menangkap bahwa idda bukan hanya tentang isi pernyataan, tetapi juga dampak emosional dan sosialnya. Ia menciptakan resonansi seperti gema yang terus memantul.
Artinya, sebuah kebohongan besar bukan hanya salah secara faktual. Ia juga menciptakan kebisingan batin: kegelisahan, kebingungan, bahkan kelelahan moral. Dan inilah yang sering luput kita sadari. Kita terlalu sibuk membantah isi kebohongan, tetapi lupa memperhatikan efek riuh yang ditimbulkannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk syai’an idda bisa sangat beragam. Ia bisa berupa ujaran yang merendahkan kemanusiaan, kebijakan yang mengabaikan keadilan, atau bahkan narasi yang memutarbalikkan fakta demi kepentingan tertentu. Yang membuatnya berbahaya bukan hanya karena ia salah, tetapi karena ia mengguncang batas antara yang wajar dan yang tidak.
Ada semacam kelelahan kolektif ketika masyarakat terus-menerus dihadapkan pada keganjilan yang dianggap biasa. Pada titik tertentu, orang berhenti terkejut. Mereka tidak lagi melihatnya sebagai sesuatu yang idda. Di sinilah bahaya sebenarnya: ketika kegaduhan tidak lagi terasa mengganggu, melainkan menjadi latar belakang yang diterima begitu saja.
Padahal, Al-Qur’an tampaknya ingin kita tetap memiliki kepekaan itu. Kepekaan untuk merasa terusik. Kepekaan untuk mengatakan: ini tidak wajar. Ini melampaui batas.
Dalam narasi yang lebih luas, ungkapan “syai’an idda” juga mengajarkan tentang pentingnya menjaga integritas makna. Dunia modern sering kali mengaburkan batas antara benar dan salah, antara fakta dan opini, antara nilai dan kepentingan. Dalam kekaburan itu, kemampuan untuk mengenali sesuatu yang idda menjadi semakin penting.
Namun, mengenali saja tidak cukup. Ada tantangan lain: bagaimana tetap waras di tengah kegaduhan. Bagaimana menjaga kejernihan ketika suara-suara yang riuh terus mendesak. Di sini, refleksi menjadi kunci. Kita perlu ruang sunyi—ruang untuk mendengar kembali suara hati yang mungkin tertutup oleh bisingnya dunia.
Menariknya, metafora unta yang mengerang juga bisa dibaca dari sisi lain. Ia adalah suara dari makhluk yang menanggung beban. Mungkin, dalam konteks sosial, kegaduhan yang kita dengar hari ini adalah tanda bahwa ada sesuatu yang sedang tidak beres. Bahwa ada beban yang terlalu berat, ketidakadilan, manipulasi, atau kehilangan arah yang akhirnya keluar dalam bentuk kebisingan.
Jika demikian, maka tugas kita bukan hanya meredam suara, tetapi memahami sumbernya. Apa yang membuat masyarakat begitu gaduh? Apa yang sedang mereka tanggung? Pertanyaan-pertanyaan ini membawa kita pada dimensi yang lebih dalam: bahwa di balik setiap idda, ada realitas yang perlu dibaca dengan jujur.
Pada akhirnya, “syai’an idda” bukan sekadar frasa dalam teks suci. Ia adalah lensa untuk melihat dunia. Ia mengingatkan kita bahwa tidak semua yang ramai itu benar, dan tidak semua yang biasa itu wajar. Ada hal-hal yang harus tetap kita sebut sebagai keganjilan meski dunia berusaha menormalkannya.
Dan mungkin, di tengah riuh yang tak kunjung reda ini, menjaga kepekaan terhadap yang idda adalah bentuk kecil dari keberanian. Bukan keberanian yang lantang, tetapi yang tenang: keberanian untuk tetap merasa terganggu, tetap mempertanyakan, dan tidak menyerah pada kebisingan yang meninabobokan
