ISLAM LIVE-Kesekian kalinya mencoba mengabstraksi roadmap filsafat politiknya Al-Farabi, namun lagi-lagi dihadapkan dengan tema-tema yang kelihatannya tidak to the point pada sebuah definisi-definisi yang sering kali kita temui pada buku-buku politik di luar sana.
Pembaca mungkin berharap kitab politik langsung berbicara tentang negara, kekuasaan, pemimpin, atau hukum. Namun, Al-Farabi justru memulai pembahasannya dengan uraian panjang tentang metafisika, sebab pertama, struktur kosmos, hingga proses emanasi wujud. Bahkan sebelum sampai pada pembahasan negara, ia terlebih dahulu berbicara tentang alam semesta dan hakikat manusia. Bagi pembaca modern, apalagi GenZ yang sukanya quote-quote politik untuk memoles orasinya, susunan ini tampak ‘bertele-tele’. Akan tetapi, yang menarik justru di situlah letak kejeniusan Al-Farabi: politik tidak bisa dipahami hanya sebagai teknik mengatur masyarakat, melainkan sebagai kelanjutan dari struktur wujud itu sendiri. Negara, dalam pandangannya, lahir dari ontologi manusia dan tujuan eksistensinya.
Karena itu, ketika Al-Farabi mulai berbicara tentang manusia, ia tidak memandang manusia sebagai makhluk individual yang berdiri sendiri dan mengatur banyak hal untuk daily activitynya. Tetapi ia melihat manusia sebagai entitas yang secara fitri memang tidak lengkap.
و كل واحد من الناس مفطور على أنه محتاج
“Setiap manusia diciptakan dalam keadaan membutuhkan” (Ārā’ Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah, 112).
Kita sering mengakrobatkan aspek kebutuhan hanya pada wilayah angka dan nilai tambah saja, padahal, kebutuhan itu bukan hanya berbicara tentang kebutuhan ekonomi, tetapi juga kebutuhan ontologis untuk mencapai kesempurnaan dirinya. Manusia tidak mungkin mencapai kamāl sendirian. Ia memerlukan orang lain untuk menyempurnakan dirinya, sebab setiap individu hanya memiliki sebagian kemampuan, sementara kesempurnaan hidup baru tercapai melalui kerja sama kolektif. Di sini politik menurut Al-Farabi bukan pertama-tama soal kekuasaan, melainkan soal kebutuhan eksistensial manusia terhadap kebersamaan.
Nah, dari titik ini, Al-Farabi kemudian membangun teori masyarakatnya. Ia menjelaskan bahwa manusia membentuk berbagai jenis perkumpulan: rumah, lorong, desa, hingga kota. Namun di antara seluruh bentuk perkumpulan itu, kota (madīnah) menempati posisi paling penting. Sebab hanya di dalam kota manusia mampu mencapai bentuk kesempurnaan tertinggi.
فالخير الأفضل و الكمال الأقصى انما ينال أولا بالمدينة
“Maka, kebaikan tertinggi dan kesempurnaan puncak hanya dapat dicapai pertama-tama melalui kota” (Ārā’ Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah,113).
Kota dalam pemikiran Al-Farabi bukan hanya sebatas wilayah administratif dengan rentetan regulasi, tetapi ruang etis dan intelektual tempat manusia saling membantu menuju kebahagiaan. Dengan demikian, penulis memandang bahwa politik dalam konteks ini, tidak diarahkan hanya untuk menciptakan stabilitas sosial, melainkan untuk mengantarkan manusia kepada sa‘ādah atau kebahagiaan filosofis dan spiritual.
Menariknya, Al-Farabi juga menyadari bahwa kerja sama sosial tidak selalu melahirkan kebaikan. Ini tentu membuat penulis salut terhadap beliau. Karena, di tengah ekspektasi dari kerangka politiknya, ia mau mengakui bahwa ada lho hal-hal yang dirasa jauh dari utopis. Nah, menurut Al-Farabi, karena manusia memiliki kehendak dan pilihan, kota juga bisa diarahkan kepada tujuan-tujuan yang buruk. Maka, dari sini lahirlah konsep al-madīnah al-fāḍilah (kota utama) dan lawannya, kota rusak atau sesat, bodoh dll.
Kota utama adalah kota yang seluruh unsur masyarakatnya bekerja sama demi mencapai kebahagiaan sejati. Di sini terlihat bahwa politik Al-Farabi sangat bernuansa moral. Negara tidak netral secara nilai. Sebuah masyarakat disebut utama bukan karena kaya atau kuat secara resources, melainkan karena orientasi hidup kolektifnya diarahkan pada kesempurnaan manusia. Puncak analogi politik Al-Farabi tampak ketika ia membandingkan negara dengan tubuh manusia.
و المدينة الفاضلة تشبه البدن التام الصحيح
“Dan kota utama menyerupai tubuh yang sehat dan sempurna” (Ārā’ Ahl al-Madīnah al-Fāḍilah,114).
Dalam tubuh terdapat organ-organ dengan fungsi berbeda, tetapi semuanya bekerja demi menjaga kehidupan. Jantung menjadi pusat pengatur, sementara organ lain menjalankan perannya sesuai tingkatannya. Begitu pula negara: ada pemimpin, ada kelompok intelektual, ada pekerja, dan ada pelayan sosial. Seluruhnya harus bergerak harmonis demi tujuan bersama. Analogi ini memperlihatkan bahwa politik bagi Al-Farabi bersifat organis, bukan mekanis. Negara bukan sebuah mesin kekuasaan, tetapi diartikulasikan dengan tubuh hidup yang seluruh bagiannya saling menopang.
Pada akhirnya, pembahasan panjang Al-Farabi tentang kosmos dan manusia sebelum masuk ke politik ternyata bukanlah penyimpangan tema atau intermezzo yang basa-basi tidak jelas thelosnya. Tetapi justru itulah fondasi utama filsafat politiknya. Ia ingin menunjukkan bahwa negara yang baik tidak dapat lahir dari manusia yang kehilangan tujuan eksistensialnya. Politik bukan sekadar perebutan kekuasaan atau flexing kebijakan populis, melainkan seni menata kehidupan agar manusia dapat bergerak menuju kesempurnaan dan kebahagiaan. Karena itu, memahami Al-Farabi tidak cukup hanya membaca teorinya tentang pemimpin atau negara, tetapi juga memahami bagaimana ia melihat manusia sebagai makhluk yang secara fitri selalu membutuhkan orang lain untuk menyempurnakan dirinya. Dalam titik inilah politik berubah menjadi jalan etik menuju kesempurnaan manusia.
