Refleksi Hadis: Larangan Menjual Agama untuk Keuntungan Duniawi

13 views

ISLAM LIVE – Abu Hurairah ra mengabarkan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang bersabda:

Akan keluar di akhir zaman nanti beberapa orang yang mencari dunia dengan amalan agama. Mereka mengenakan pakaian di tengah manusia dengan kulit kambing yang lembut, lisan mereka lebih manis daripada gula, tetapi hati mereka adalah hati serigala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‘Apakah terhadap-Ku mereka berani menipu ataukah mereka berani melawan-Ku? Maka demi Kebesaran-Ku, Aku benar-benar akan mengirim kepada mereka fitnah yang membuat orang-orang yang teguh hati pun menjadi bingung.’”
(HR At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, Kitab Az-Zuhd, no. 2515)

Belakangan ini saya agak miris jika melihat algoritma media sosial, baik di X, Facebook, Instagram, maupun YouTube, terkait beberapa oknum ulama atau kiai yang melakukan tindakan kriminal.

Perbuatan kriminal para oknum tersebut memang pantas diganjar berat oleh hukum. Namun yang membuat saya lebih miris adalah cercaan dan cacian para warganet kepada ulama dan kiai secara umum di media sosial.

Tak pernah saya melihat caci maki sedemikian dahsyat yang diarahkan kepada para ulama sebagaimana yang disaksikan hari ini.

Tetapi masyarakat awam juga tidak bisa disalahkan 100 persen. Kekesalan dan kebencian mereka terhadap sebagian kiai, dai, dan ustadz muncul karena terlalu banyaknya berita miring tentang perilaku buruk para tokoh agama dan tindak kejahatan yang terjadi di lembaga pendidikan milik mereka.

Tak sedikit oknum ulama yang mempertontonkan hidup mewah, glamor, hedonis, dan akhlak yang buruk, sehingga membuat masyarakat kehilangan rasa hormat kepada mereka.

Hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi dari Abu Hurairah di atas menurut saya merupakan gambaran yang sangat tepat tentang keadaan hari ini. Nabi Muhammad saw seolah telah memprediksi bahwa akan muncul orang-orang yang menjual ayat-ayat Al-Qur’an dan sabda Nabi hanya demi mendapatkan kenikmatan duniawi.

Mereka berbicara lembut, memakai jubah agama, tampil saleh di depan kamera, tetapi orientasi hidupnya hanyalah uang, popularitas, dan kekuasaan.

Tidak satu atau dua orang ikhwan yang pernah bercerita kepada saya tentang adanya oknum penceramah yang “nodong” bayaran dengan nominal besar untuk sekali ceramah.

Yang membuat saya tambah miris, kisah ini justru diceritakan oleh seorang teman yang hidup sebagai ustadz. Ia mengeluhkan mentalitas sebagian penceramah muda yang tak lagi mau menjalani hidup wara’ dan sederhana.

Baca Juga:  Man La Yahdhuruhu Al-Faqih: Kitab Hadis yang Menyatukan Sunni dan Syiah

Ternyata standar hidup media sosial bukan hanya mempengaruhi kaum wanita atau para selebritas. Para dai dan penceramah muda zaman sekarang pun ikut terpengaruh juga.

Mereka berlomba menunjukkan mobil mewah, rumah besar, jam mahal, dan gaya hidup glamor demi mempertahankan citra di media sosial. Padahal menjadi ustadz bukan profesi hiburan.

Namun perlu ditegaskan, menerima upah atau gaji dari ilmu yang diberikan kepada masyarakat bukanlah sesuatu yang tercela. Imam Ja’far bin Muhammad Ash-Shadiq as yang merupakan Imam Ahlulbait Rasulullah saw berkata:

Suatu ketika seseorang berkata kepada Abu Abdullah as: ‘Mereka mengatakan bahwa menerima bayaran untuk mengajar adalah haram.’ Imam as berkata: ‘Mereka, musuh-musuh Allah, telah berdusta. Mereka ingin menghentikan pengajaran Al-Qur’an. Jika seseorang memberikan uang pendidikan anaknya kepada seorang guru, maka pembayaran itu halal bagi guru tersebut.’”
(HR Al-Kulaini, Al-Kafi)

Menurut riwayat Ahlulbait di atas, menerima upah atas jasa pendidikan adalah sesuatu yang dibolehkan dan bahkan membawa keberkahan. Berprofesi sebagai ulama dan menggantungkan hidup dari ilmu bukanlah hal yang dilarang.

Yang dilarang adalah ketika seseorang tidak lagi ikhlas menjadi ulama, sehingga jubah kebesarannya dipakai untuk mencari kenikmatan dunia tanpa mempedulikan syariat dan akhlak.

Maraknya Ulama Palsu

Seorang ahli agama dan penceramah yang terjebak hawa nafsu memang berbahaya. Namun yang lebih berbahaya bagi umat adalah seorang jahil yang memakai jubah agama untuk menjual nasihat yang tampak islami, padahal justru menyesatkan banyak orang.

Tak sedikit orang yang dianggap “ulama” oleh netizen ternyata tidak memiliki dasar pendidikan agama yang memadai.
Para influencer itu biasa mengumbar motivasi yang dibalut agama, tetapi tidak memiliki pengetahuan dan wawasan keagamaan yang cukup.

Tak heran jika ada influencer yang membawa ajaran keblinger seperti mengatakan Nabi Muhammad saw tidak memiliki keturunan, menyebut Nabi pernah tersesat, mengkafirkan ulama sufi dan para wali Allah, atau tampil sebagai “ustadzah” tetapi ternyata hobi berzina dan mengkhianati keluarganya sendiri.

Para influencer yang menjadi ustadz dadakan ini memanfaatkan gairah beragama kaum Muslim belakangan ini demi mencari followers agar bisa menjadi brand ambassador dan mendapatkan keuntungan dari iklan.

Praktik jual beli agama oleh influencer berkedok ustadz seperti ini benar-benar nista dan hina.

Baca Juga:  Tafsir Muqarran: Memahami Identitas Yahudi dari Ibn Jarir Ath-Thabari dan Muhammad Rasyid Ridha

Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib as berkata:

Pencari dunia melalui agama adalah sesuatu yang tercela dan memalukan.
(HR Al-Amidi, Ghurar Al-Hikam)

Selain para influencer, para dukun berkedok ustadz juga menjadi benalu dan hama di tengah masyarakat. Mereka menyebarkan kesesatan dan penipuan dengan membawa nama Islam.

Para “dajjal” inilah yang belakangan membuat citra ulama rusak. Mereka tidak pernah ngaji serius, tidak pernah mondok di pesantren, bahkan tidak pernah duduk di bangku madrasah, tetapi nekat memakai imamah dan sorban agar dianggap ustadz dan dihormati masyarakat.

Semua itu dilakukan karena mereka malu mengaku sebagai paranormal.

Walhasil, banyak di antara dukun berkedok ustadz tersebut melakukan aksi-aksi tak terpuji seperti penipuan, pelecehan seksual, bahkan pencabulan terhadap santriwatinya sendiri.

Para dukun dan influencer yang menjadi ustadz dadakan inilah musuh Islam yang sebenarnya. Mereka tidak memiliki ilmu, tetapi berani berbicara di mimbar-mimbar ulama.

Semua tak lain dan tak bukan karena satu hal: uang.

Melihat fenomena seperti ini sudah semakin marak, pemerintah tidak boleh diam. Negara harus menertibkan para ulama gadungan tersebut dan menangkap para “dajjal kontemporer” yang menjual agama demi kekayaan dan kehormatan duniawi, sementara isi ceramah mereka kacau balau dan perilakunya bertentangan dengan agama.

Pemerintah juga harus ikut berpartisipasi dalam mencegah munculnya ulama palsu dengan melakukan kaderisasi dai dan ustadz yang benar-benar memiliki wawasan agama dan akhlak yang baik.

Selain itu, para dai dan ustadz juga sebaiknya jangan hanya berpaku pada honor ceramah. Akan lebih baik jika mereka memiliki usaha sampingan seperti berdagang, bertani, atau pekerjaan halal lainnya, agar mereka tidak terlalu dibebani urusan perut dan dapur.

Amirul Mukminin Imam Ali as berkata:
Orang yang berpegang teguh pada agama melalui usaha dunia akan menjaga agamanya. Tetapi orang yang mencari dunia melalui agama akan kehilangan agamanya.”
(HR An-Nuri, Mustadrak Al-Wasa’il)

Nasihat Imam Ali as ini sangat dalam maknanya. Agama seharusnya menjadi jalan menuju ridha Allah, bukan alat untuk membangun kemewahan dunia.

Karena ketika agama sudah diperdagangkan, maka yang rusak bukan hanya pelakunya, tetapi juga kepercayaan umat terhadap agama itu sendiri.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA