ISLAM LIVE – Festival Pacu Jalur, tradisi lomba perahu panjang khas masyarakat Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, kembali mendapat perhatian luas setelah masuk dalam daftar Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026. Selain menjadi salah satu agenda budaya unggulan nasional, tradisi yang telah berlangsung sejak abad ke-17 ini menyimpan nilai kebersamaan yang sejalan dengan ajaran Islam.
Masuknya Pacu Jalur ke dalam KEN 2026 menempatkannya sebagai satu dari lima agenda budaya unggulan Provinsi Riau yang lolos kurasi Kementerian Pariwisata. Empat agenda lainnya antara lain Festival Perang Air, Bakar Tongkang, Kenduri Riau, dan Festival Sungai Subayang.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau, Roni Rakhmat, menyebut pencapaian tersebut merupakan hasil sinergi berbagai pihak dalam mengembangkan pariwisata berbasis budaya.
“Bersyukur, Riau kembali percaya dengan lima agenda yang diakui sebagai yang terbaik di Indonesia,” ujar Roni Rakhmat.
Ia menilai pengakuan tersebut tidak hanya mengangkat identitas budaya Melayu, tetapi juga membuka peluang pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata.
“Ini momentum dalam menggerakan perekonomian melalui pariwisata di Riau. Tentu dampaknya sangat besar bagi Riau. Riau siap menyongsong dunia,” ujarnya.
Senada dengan itu, Bupati Kuantan Singingi Suhardiman Amby mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga sportivitas dan kekompakan selama penyelenggaraan festival.
“Mari kita sukseskan, jaga sportivitas karena Pacu Jalur adalah identitas daerah kita,” ujarnya.
Ketua Panitia Pacu Jalur Rayon I, Emri Nofdiles, menjelaskan sebanyak 47 jalur dari berbagai desa mengikuti rangkaian awal Festival Pacu Jalur 2026. Selain melestarikan budaya, kegiatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus mendorong perekonomian daerah.
Warisan Leluhur yang Terus Bertahan
Jauh sebelum dikenal sebagai festival budaya, jalur merupakan perahu kayu panjang yang digunakan masyarakat Rantau Kuantan sebagai sarana transportasi utama di Sungai Kuantan untuk mengangkut hasil bumi.
Seiring perkembangan zaman, penggunaan jalur berubah menjadi perlombaan antarkampung yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pada masa kolonial Belanda, perlombaan ini pernah menjadi bagian dari perayaan ulang tahun Ratu Wilhelmina. Setelah Indonesia merdeka, Pacu Jalur kemudian berkembang menjadi salah satu agenda tahunan dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kini, Pacu Jalur telah menjelma menjadi perpaduan antara olahraga, seni, dan budaya yang menjadi identitas masyarakat Melayu Riau.
Viral di Media Sosial, Filosofinya Tetap Terjaga
Popularitas Pacu Jalur kembali meningkat setelah video anak pacu yang menari di ujung perahu banyak beredar di media sosial. Gerakan tersebut bahkan dikenal luas dengan istilah “aura farming” dan diikuti banyak pengguna media sosial hingga tokoh dari berbagai masyarakat negara.
Namun, di balik viralnya tarian tersebut tersimpan filosofi yang telah diwariskan sejak lama.
Setiap orang yang berada di atas jalur memiliki tugas yang berbeda namun saling melengkapi. Para pendayung mengayuh secara serempak agar perahu melaju cepat menuju garis akhir. Di bagian depan terdapat Tukang Tari yang memberi semangat sekaligus menjadi penanda posisi jalur. Sementara Tukang Timbo Ruang bertugas membuang air dari dalam perahu dan membantu memberi aba-aba kepada para pendayung.
Di bagian belakang terdapat Tukang Onjai yang menjaga keseimbangan sekaligus membantu mengarahkan laju perahu. Keseluruhan peran tersebut menunjukkan bahwa kemenangan hanya dapat diraih melalui kerja sama seluruh anggota tim.
Gotong Royong Sejak Proses Pembuatan Jalur
Nilai kebersamaan dalam Pacu Jalur tidak hanya tampak saat perlombaan berlangsung. Semangat tersebut sudah dimulai sejak proses pembuatan jalur melalui tradisi maelo, yaitu kegiatan menarik batang kayu besar dari hutan menuju sungai secara bergotong royong.
Seluruh warga kampung, mulai dari orang tua, pemuda hingga anak-anak, terlibat dalam proses tersebut tanpa membedakan status sosial. Jalur yang selesai dibuat kemudian menjadi kebanggaan bersama masyarakat.
Ketika festival berlangsung, banyak perantau kembali ke kampung halaman untuk memberikan dukungan kepada jalur asal daerahnya. Momentum tersebut sekaligus menjadi ajang mempererat silaturahmi serta memperkuat identitas masyarakat Kuantan Singingi.
Selain menjaga kelestarian budaya, festival ini juga memberikan manfaat ekonomi melalui meningkatnya aktivitas pelaku UMKM, sektor perhotelan, transportasi, hingga ekonomi kreatif yang tumbuh seiring bertambahnya jumlah wisatawan.
Nilai Islam dalam Semangat Pacu Jalur
Semangat gotong royong yang menjadi ruh Pacu Jalur selaras dengan ajaran Islam tentang pentingnya bekerja sama dalam kebaikan. Allah SWT berfirman:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam melakukan dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah : 2).
Ayat tersebut mengajarkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh kemauan untuk saling membantu dalam mencapai tujuan yang baik.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Mukmin yang satu dengan mukmin lainnya bagaikan bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Nilai persatuan, tanggung jawab, dan kebersamaan yang diwariskan dalam Pacu Jalur menunjukkan bahwa budaya dapat menjadi sarana menanamkan karakter sekaligus memperkuat ukhuwah di tengah masyarakat.
Di tengah perkembangan teknologi dan arus modernisasi, Pacu Jalur membuktikan bahwa kemajuan tidak harus menghilangkan akar budaya. Sebaliknya, tradisi yang terus dijaga dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan identitas bangsa kepada dunia tanpa kehilangan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulunya.
