ISLAM LIVE – Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, dipercaya menjadi pusat pengembangan tanaman obat bahan alam melalui kerja sama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Program tersebut diharapkan mampu melibatkan ribuan santri dalam edukasi pemanfaatan tanaman obat yang aman dan berbasis ilmu pengetahuan.
Sebagai bagian dari program tersebut, pesantren menyediakan lahan seluas 2 hektare untuk penanaman berbagai jenis tanaman obat. Hingga saat ini, Balai Besar POM di Palembang telah menanam 1.850 pohon obat, sementara 1.500 pohon lainnya akan ditanam dalam tahap berikutnya.
“Melalui Pusat Pohon Obat Bahan Alam ini, para santri tidak hanya mengenal tanaman obat sebagai warisan budaya bangsa, tetapi juga memahami pentingnya pemanfaatan yang berbasis ilmu pengetahuan, keamanan, dan keberlanjutan. Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kolaborasi dan sinergi yang terbangun bersama BPOM, akademisi, dan dunia usaha,” kata K.H. Joni Rusli, S.Pd.I, Ketua Yayasan Islam Al-Ittifaqiah (YALQI) Indralaya yang mewakili Mudir Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah, di Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Jumat (31/7/2026).
Menurut Joni Rusli, keterlibatan 7.887 santri diharapkan mampu memperluas edukasi mengenai pentingnya pelestarian tanaman obat sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan dan lingkungan di tengah masyarakat.
Sementara itu, Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan bahwa pengembangan obat bahan alam merupakan bagian penting dalam membangun ketahanan kesehatan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
“BPOM berkomitmen mendorong pengembangan obat bahan alam melalui penguatan regulasi, pendampingan, edukasi, riset, dan inovasi agar mampu memberikan manfaat kesehatan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi,” kata Taruna Ikrar, Kepala BPOM, di Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Jumat (31/7/2026).
BPOM menyatakan pengembangan ekosistem obat bahan alam akan terus dilakukan melalui sinergi dengan pesantren, perguruan tinggi, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menghasilkan obat tradisional yang memenuhi standar keamanan, mutu, dan khasiat sekaligus memperkuat kemandirian kesehatan berbasis potensi hayati Indonesia.
