ISLAM LIVE – Pengamat Hubungan Internasional (HI) Universitas Brawijaya, Abdullah Assegaf, menilai eskalasi ketegangan yang kembali terjadi dalam beberapa hari terakhir menunjukkan adanya upaya Amerika Serikat memprovokasi Iran agar keluar dari perjanjian damai yang sedang berjalan.
“Amerika ingin memprovokasi Iran agar Iran itu keluar dari perjanjian yang saya kira isi dari perjanjian itu sangat menguntungkan Iran. Tetapi nampaknya Iran tidak terprovokasi,” ujar Abdullah kepada media Selasa, 30/6/2026.
Menurut Abdullah, Iran memilih merespons dengan serangan yang disebutnya terbatas, namun menyasar delapan situs militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait. Dia menilai langkah tersebut merupakan pesan bahwa Iran tetap siap mempertahankan posisinya, sekaligus menegaskan Selat Hormuz masih berada di bawah kendali Iran.
Abdullah juga menilai perjanjian damai yang menjadi dasar perundingan lanjutan selama 60 hari masih berdiri di atas fondasi yang rapuh. Menurutnya, salah satu penyebab utama adalah rendahnya tingkat kepercayaan Iran terhadap Amerika Serikat.
Dia mengatakan Iran menilai Amerika Serikat telah beberapa kali mengingkari kesepakatan sebelumnya. Karena itu, Iran masih bersikap hati-hati dan menuntut seluruh poin dalam kesepakatan dijalankan, termasuk pencairan dana milik Iran yang selama ini dibekukan di luar negeri.
Di sisi lain, Abdullah berpendapat Amerika Serikat juga menghadapi tekanan untuk kembali ke meja perundingan. Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi keterbatasan cadangan energi Amerika Serikat serta desakan dari sejumlah negara Teluk yang terdampak konflik, terutama terhadap sektor energi dan pariwisata.
