ISLAM LIVE – Peneliti senior non-residen di Center of International Policy, Sina Toossi, menilai kematian mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, justru memperkuat posisinya secara simbolis. Menurutnya, pembunuhan Khamenei membuat pengaruh simboliknya semakin besar dibanding saat masih hidup.
“Pembunuhan tersebut telah membuat Khamenei jauh lebih kuat secara simbolis dalam kematian daripada saat ia masih hidup,” ujar Toossi.
Penilaian itu disampaikan di tengah penyelenggaraan pemakaman kenegaraan Ali Khamenei yang dimulai pada 3 Juli 2026. Pemerintah Iran menggelar prosesi duka selama sepekan di lima kota yang berada di Iran dan Irak setelah Khamenei gugur akibat serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari lalu.
Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref, menyebut rangkaian prosesi yang dimulai di Teheran dan berakhir di Mashhad tersebut sebagai peristiwa paling penting sejak Revolusi Islam 1979. Pemerintah juga mengerahkan berbagai fasilitas publik, aparat keamanan, dan kelompok keagamaan untuk mendukung jalannya prosesi di tengah bulan Muharram.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan rakyat Iran tidak akan tinggal diam menghadapi apa yang disebutnya sebagai bentuk penindasan terhadap negaranya.
“Kita harus bangkit dan meneriakkan seruan untuk darah bangsa kepada dunia agar dunia tahu bahwa bangsa Iran yang terhormat dan mulia tidak akan tinggal diam dalam menghadapi penindasan… dan tidak akan melepaskan darah Imamnya (Khamenei),” tegas Ghalibaf.
Sebagai informasi, Iran sebelumnya juga pernah menggelar pemakaman dalam skala besar untuk pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini, pada 1989 serta Komandan Pasukan Quds, Qassem Soleimani, pada 2020. (ari/ed)
