ISLAM LIVE – Berbagai kasus kekerasan terhadap Muslim di India kembali memunculkan pertanyaan mengenai akar permusuhan yang terus berulang di negara tersebut. Dalam perspektif antropolog Muslim abad ke-11, Al-Biruni, konflik semacam itu tidak hanya dipicu oleh perbedaan agama, tetapi juga berkaitan dengan benturan budaya, simbol, dan konstruksi sosial.
Dalam karya monumentalnya Kitab al-Hind, Al-Biruni menekankan bahwa setiap masyarakat memiliki sistem nilai dan tradisi yang perlu dipahami berdasarkan kerangka budayanya sendiri. Menurutnya, kegagalan memahami perbedaan sering kali melahirkan prasangka yang kemudian berkembang menjadi konflik.
Pendekatan tersebut dinilai masih relevan untuk membaca hubungan Hindu-Muslim di India. Islam membawa prinsip tauhid, egalitarianisme, dan universalitas, sedangkan tradisi Hindu berkembang dalam struktur sosial yang lebih hierarkis dan dipengaruhi sistem kasta. Perbedaan cara pandang tersebut dapat memunculkan ketegangan ketika masing-masing kelompok melihat identitas pihak lain sebagai ancaman.
Dalam analisis antropologi simbolik, atribut seperti kopiah, hijab, janggut, atau simbol-simbol keislaman bukan sekadar identitas keagamaan, tetapi dapat dipersepsikan sebagai penanda kelompok yang berbeda. Ketika simbol-simbol tersebut dipandang sebagai ancaman terhadap dominasi budaya mayoritas, ruang bagi diskriminasi hingga kekerasan menjadi semakin terbuka.
Selain faktor budaya, sejarah panjang hubungan Hindu dan Muslim di India juga turut membentuk dinamika tersebut. Pengalaman masa kolonial, partisi India-Pakistan, hingga perkembangan politik identitas pada era modern memperkuat narasi saling curiga yang masih bertahan hingga kini.
Al-Biruni menawarkan pendekatan berbeda. Ia menilai dialog lintas budaya dan kajian objektif terhadap tradisi lain merupakan jalan untuk mengurangi prasangka. Dengan memahami agama lain berdasarkan logika internalnya, peluang membangun kehidupan bersama menjadi lebih besar dibanding mempertahankan sikap saling menegasikan.
Melalui perspektif ini, konflik Hindu-Muslim tidak dipahami semata sebagai persoalan teologi, melainkan sebagai persoalan sosial dan budaya yang memerlukan pendekatan dialogis agar pluralitas dapat diterima sebagai realitas bersama.
