ISLAM LIVE – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menargetkan peningkatan penggunaan produk pangan Indonesia untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jemaah haji pada 2027. Upaya tersebut dilakukan melalui penataan ekosistem pangan dari hulu hingga hilir, mulai dari produksi, standardisasi, distribusi, hingga kesiapan ekspor dan logistik ke Arab Saudi.
Hal tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Teknis dan Monitoring Evaluasi Ekosistem Pangan Haji dan Umrah yang digelar Kementerian Koordinator Bidang Pangan di Yogyakarta, Selasa (15/9/2026). Untuk musim haji 2027, Indonesia memperoleh kuota sebanyak 221.000 jemaah yang menjadi potensi pasar sekaligus peluang untuk memperluas pemanfaatan produk pangan nasional dalam rantai pasok haji.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah, Jaenal Effendi, mengatakan pengembangan ekosistem pangan diarahkan untuk memperkuat kemandirian melalui optimalisasi produk dalam negeri.
“Kita ingin mewujudkan kemandirian pangan dengan memberdayakan produk nasional. Kalau kebutuhan bisa dipenuhi dari dalam negeri, tidak perlu lagi mengandalkan impor,” ujar Jaenal.
Menurut Jaenal, produk pangan untuk kebutuhan jemaah tidak hanya mencakup bumbu dan ready to eat (RTE), tetapi juga komoditas utama seperti beras, protein, buah, sayur, dan minyak. Kemenhaj juga mendorong pemanfaatan produk pangan dari berbagai daerah serta memperluas keterlibatan pelaku usaha dan UMKM dalam rantai pasok haji.
