ISLAM LIVE – Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia sampaikan semangat nasionalisme dalam penyelenggaraan haji harus diwujudkan melalui pelayanan yang berkualitas dan tata kelola yang akuntabel. Pesan tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Kementerian Haji dan Umrah Teguh Dwi Nugroho dalam kegiatan Doa dan Zikir Kebangsaan menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di kawasan Silang Monumen Nasional (Monas), Sabtu (1/8/2026).
Teguh mengatakan kehadiran jajaran Kemenhaj dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari peneguhan komitmen kebangsaan dalam menjalankan amanah pelayanan haji, baik di Tanah Air maupun di Tanah Suci. Menurutnya, nilai kebangsaan perlu diterjemahkan ke dalam pelaksanaan tugas aparatur dan pelayanan kepada jemaah.
“Nasionalisme perhajian adalah ketika setiap elemen bekerja dengan penuh integritas, memastikan setiap jemaah memperoleh pelayanan terbaik, baik sejak proses persiapan di Tanah Air hingga menjalankan seluruh rangkaian ibadah di Tanah Suci,” tegas Teguh.
Ia menambahkan bahwa nasionalisme dalam penyelenggaraan haji tidak berhenti pada simbol atau seremoni, tetapi harus terlihat dalam cara aparatur menjalankan tanggung jawabnya. Integritas dan profesionalisme petugas menjadi bagian dari upaya memastikan jemaah memperoleh pelayanan sesuai kebutuhan selama proses penyelenggaraan haji.
Teguh juga mendorong transformasi penyelenggaraan haji melalui tata kelola yang semakin akuntabel dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Menurutnya, semangat kemerdekaan dapat menjadi dorongan untuk membangun budaya kerja yang inovatif dan kolaboratif di lingkungan Kemenhaj.
“Dari Monas, kita satukan niat dan ikhtiar untuk menyongsong era baru penyelenggaraan haji Indonesia yang lebih prima, akuntabel, transparan, dan bermartabat di mata dunia. Semangat kemerdekaan harus menjadi inspirasi bagi seluruh insan perhajian untuk terus menghadirkan pelayanan yang semakin berkualitas bagi masyarakat,” pungkasnya.
Kegiatan Doa dan Zikir Kebangsaan tersebut diikuti berbagai elemen masyarakat lintas agama, mulai dari pelajar, mahasiswa, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi masyarakat, hingga Aparatur Sipil Negara dari berbagai kementerian dan lembaga.
