Dosen UMY: Jangan Ukur Keberhasilan Kebijakan dari Pelabelan Siswa

4 views
Endro Dwi Hatmanto, S.Pd., MA, Ph.D

ISLAM LIVE – Dosen Fakultas Pendidikan dan Humaniora Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Endro Dwi Hatmanto, mengingatkan bahwa keberhasilan kebijakan pendidikan tidak boleh diukur dari banyaknya siswa yang dicurigai, diberi label, atau dihukum. Kritik ini menanggapi rencana Kementerian Agama mengintegrasikan materi pencegahan LGBTQ ke dalam pendidikan agama sebagai tindak lanjut Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara.

“Keberhasilan tidak boleh diukur dari banyaknya siswa yang dicurigai, diberi label, atau dihukum. Itu bukan indikator pendidikan dan justru berisiko menciptakan ketakutan serta perundungan,” kata Endro Dwi Hatmanto, Dosen Fakultas Pendidikan dan Humaniora UMY, di Yogyakarta, Senin (03/08/2026).

Baca Juga:  Dana Haji Dikelola Sesuai Prinsip Syariah, BPKH: Aman dan Terjaga

Endro menekankan bahwa pendekatan yang berorientasi pada penghakiman bertentangan dengan esensi pendidikan. Sekolah seharusnya menyediakan sistem pendampingan dan layanan konseling yang memadai agar siswa merasa aman dan tahu ke mana harus mencari bantuan ketika menghadapi persoalan.

Ia juga menyoroti pentingnya komunikasi terbuka dengan orang tua terkait tujuan dan metode pembelajaran. Transparansi ini diperlukan agar tidak terjadi kesalahpahaman yang dapat merugikan anak.

“Sosialisasi harus dimulai dari tujuan besarnya, yaitu membentuk generasi yang beriman, sehat, dan bertanggung jawab. Sekolah harus menjelaskan metode penyampaian serta batasan yang diterapkan,” tegasnya.

Menurut Endro, program ini tidak boleh bertujuan menginterogasi atau membuka kehidupan pribadi siswa. Orientasi kebijakan harus pada upaya membantu anak menghadapi tantangan era digital dengan orang tua sebagai mitra sekolah.

Baca Juga:  Bupati Kotim Dorong Santri Perkuat Karakter dan Literasi Digital di Tengah Arus Teknologi

Endro juga mengimbau sekolah berkomitmen mencegah perundungan dan menjaga kerahasiaan data pribadi siswa. Anak yang mengalami tekanan psikologis harus mendapat pendampingan etis dan terjamin kerahasiaannya.

Ia mendorong implementasi bertahap dengan melibatkan psikologi perkembangan, kesehatan, perlindungan anak, dan ilmu komunikasi. “Sekolah bukan ruang penghakiman, melainkan tempat anak belajar, bertumbuh, dan memperoleh pendampingan. Jika dalam pelaksanaannya muncul ketakutan atau perundungan, maka desain pembelajarannya harus segera diperbaiki,” pungkasnya.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA