ISLAM LIVE – Sambal kacang yang akrab menemani gado-gado, pecel, dan sate ternyata memiliki perjalanan panjang dalam khazanah kuliner Nusantara. Topik ini dibahas dalam program Indonesia Banget Pro 1 Jogja, yang turut diramaikan pendapat pendengar.
Melalui sambungan telepon (0274) 580333, Ipul di Wates menyatakan kegemarannya pada gado-gado. Ama di Tamansiswa menyampaikan hal serupa, menyebut gado-gado yang dilengkapi telur. Satilah di Waduk Sermo justru lebih memilih pecel, apalagi jika dibuat sendiri.
“Saya suka pecel sayur,” tulis Budi Santosa dari Wonogiri lewat pesan singkat ke WhatsApp 08112711911, menguatkan bahwa pecel menjadi favorit banyak orang.
Kuliner berbumbu kacang sebenarnya tidak terbatas pada gado-gado dan pecel. Ada pula lotek, ketoprak, siomay, batagor, otak-otak, sate, dan karedok yang mengandalkan cita rasa serupa.
Menurut catatan Foodreview, sebelum abad ke-20, sambal kacang belum memainkan peran penting sebagai pendamping sayuran rebus. Kuah santan dan kelapa bubuk kala itu lebih berperan mendampingi sayur rebus.
Titik awal kemunculan sambal kacang terjadi pada 1872, ketika ia masih berkolaborasi dengan masakan berkuah. Pada 1930, saus sambal kacang pada pecel dan gado-gado mulai terasa, seiring pergeseran kebiasaan dari saus santan akibat pengaruh kolonialisme.
Memasuki 1940-an, sate, ketoprak, dan otak-otak dengan bumbu kacang mulai muncul. Hingga hari ini, proses adaptasi membuat keragaman kuliner berbumbu kacang tetap melekat dengan kebiasaan masyarakat, sejalan dengan perubahan selera dan ketersediaan bahan.
