ISLAM LIVE – Menteri Agama Nasaruddin Umar meminta mahasiswa perguruan tinggi keagamaan Islam memperluas cara pandang dalam mencari ilmu, tidak hanya bergantung pada buku dan ruang kelas. Pesan itu disampaikan saat mengisi Stadium General Orientasi Mahasiswa Baru Pascasarjana Universitas Islam Malang, Jumat (2/10/2026).
Menurut Nasaruddin, tradisi keilmuan Islam mengenal sedikitnya lima sumber pengetahuan. Pertama, deduksi akal, yakni kemampuan manusia menggunakan nalar untuk memahami persoalan dan menarik kesimpulan. Kedua, intuisi, yang menurutnya tidak boleh diremehkan sebagai salah satu cara menangkap tanda-tanda.
“Namun, kemampuan tersebut dapat menjadi tumpul ketika nurani manusia tidak terasah,” ucapnya. Ketiga, wahyu yang menjadi sumber informasi sekaligus konfirmasi dalam Islam. Al-Qur’an menjadi sumber utama bagi umat Islam dalam memahami kehidupan dan ilmu pengetahuan.
Keempat, ilham. Nasaruddin membedakannya dengan wahyu. Wahyu merupakan sumber kebenaran yang pasti bagi para nabi, sedangkan ilham merupakan pengalaman batin yang tidak memiliki tingkat kepastian sama sehingga harus ditempatkan secara proporsional.
Kelima, mimpi yang juga memiliki tempat dalam tradisi keislaman. Ia mencontohkan kisah Nabi Yusuf dan peristiwa penyembelihan kurban yang berkaitan dengan mimpi Nabi Ibrahim. “Mimpi itu, alam bawah sadar itu superpower manusia. Para nabi dan wali memiliki kemampuan mengakses itu, sehingga mampu menemukan banyak kebenaran,” jelasnya.
Meski demikian, luasnya sumber pengetahuan tidak berarti semua informasi dapat diterima begitu saja. Ia menyinggung tradisi kritik hadis yang dikembangkan para ulama, termasuk Imam Bukhari.
Ketatnya proses verifikasi hadis menunjukkan tradisi keilmuan Islam memiliki mekanisme untuk menguji validitas informasi sebelum diterima sebagai pengetahuan yang sahih. Pesan ini menjadi penting bagi mahasiswa PTKI di tengah derasnya arus informasi.
Menurut Nasaruddin, keluasan epistemologi Islam menunjukkan tradisi keilmuan Islam tidak semata-mata bergantung pada satu metode. “Al-Qur’an menyediakan semuanya,” kata Menag.
Karena itu, mahasiswa pascasarjana PTKI didorong tidak berhenti pada pengetahuan dari buku, dosen, dan ruang kuliah. Mereka perlu mampu membaca alam, mengasah nalar dan nurani, serta memahami posisi wahyu, ilham, dan mimpi dalam khazanah Islam secara proporsional.
