ISLAM LIVE – Mabit merupakan salah satu rangkaian dalam pelaksanaan ibadah haji yang dilakukan di Muzdalifah dan Mina. Secara bahasa, mabit berarti bermalam, sedangkan secara istilah berarti bermalam di Muzdalifah dan Mina untuk memenuhi ketentuan manasik haji.
Mabit di Muzdalifah dilakukan setelah jemaah melaksanakan wukuf di Arafah. Mabit di Muzdalifah berlangsung pada 10 Dzulhijjah dan menurut sebagian besar ulama hukumnya wajib.
Mabit di Muzdalifah dinilai sah apabila jemaah berada di Muzdalifah setelah melewati tengah malam, meskipun hanya dalam waktu singkat. Selama berada di sana, jemaah dianjurkan memperbanyak talbiyah, zikir, istighfar, doa, dan membaca Al-Qur’an.
Terdapat keringanan bagi jemaah yang tidak dapat mabit karena uzur syar’i. Kondisi seperti sakit, mengurus orang sakit, atau tersesat di perjalanan termasuk uzur yang disebutkan dalam panduan. Jemaah yang tidak mabit karena uzur syar’i tersebut tidak diwajibkan membayar dam.
Sementara itu, mabit di Mina dilakukan pada malam 11 hingga 12 Dzulhijjah bagi jemaah yang mengambil nafar awal. Bagi jemaah yang mengambil nafar tsani, mabit dilakukan pada malam 11 hingga 13 Dzulhijjah. Dalam panduan manasik, hukum mabit di Mina juga dijelaskan sebagai wajib menurut sebagian ulama.
Mabit di Mina dinyatakan sah apabila jemaah berada di Mina lebih dari separuh malam. Namun, buku tersebut juga mencatat adanya pendapat ulama yang menyatakan mabit sah apabila jemaah sempat berada di Mina sebelum terbit fajar kedua atau fajar shadiq.
Terkait tempat mabit, sebagian besar jemaah haji Indonesia bermalam di kawasan Harratul Lisan. Perluasan kawasan Mina atau tausi’atu Mina juga menjadi bagian dari pembahasan karena keterbatasan wilayah Mina dan bertambahnya jumlah jemaah.
