ISLAM LIVE – Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengecam ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran dalam pidatonya di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Rabu (23/9/2026). Namun, di tengah ketegangan yang berlangsung, Pezeshkian tetap menyatakan Iran membuka ruang untuk diplomasi dan perundingan.
Dalam pidatonya, Pezeshkian menanggapi pernyataan Trump sehari sebelumnya yang mengancam akan “melenyapkan” Republik Islam Iran apabila tidak tercapai kesepakatan. Pezeshkian mengatakan tekanan dan ancaman tersebut justru akan memperkuat keteguhan rakyat Iran.
“Presiden AS menyebut kami teroris, tetapi kami adalah korban teroris,” kata Pezeshkian dalam pidatonya. Ia juga menunjukkan foto mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei serta foto sejumlah siswi yang menurut Iran tewas dalam serangan udara AS terhadap sebuah sekolah di Minab. Klaim mengenai serangan tersebut disampaikan oleh pihak Iran.
Pezeshkian juga menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah menghadapi tekanan. Namun, ia pada saat yang sama menyampaikan ajakan untuk bekerja sama dengan dunia. “Iran mengulurkan tangannya kepada dunia,” katanya, seraya menegaskan bahwa tawaran tersebut bukan karena kelemahan, melainkan keyakinan terhadap kekuatan dan keteguhan Iran.
Isu Selat Hormuz turut menjadi bagian dari pidatonya. Pezeshkian menolak apa yang disebutnya sebagai upaya AS menggunakan jalur strategis tersebut untuk memperluas tekanan terhadap Iran. Ia menegaskan Iran akan menolak penggunaan Selat Hormuz untuk memaksakan ketidakamanan terhadap negaranya.
Pidato tersebut berlangsung di tengah adanya pembicaraan antara AS dan Iran. Sehari sebelumnya, Trump mengatakan utusannya, Jared Kushner dan Steve Witkoff, telah melakukan pertemuan selama tiga jam dengan pejabat Iran. Trump menyebut pertemuan itu sangat baik dan produktif serta mengatakan masih terdapat momentum menuju kemungkinan kesepakatan.
Peluang diplomasi tersebut menjadi salah satu pesan penting dari pidato Pezeshkian. Presiden Iran tetap menyampaikan penolakan keras terhadap ancaman dan tekanan AS, tetapi pada saat yang sama menyatakan kesiapan Iran untuk membuka ruang kerja sama dan perundingan guna mengakhiri konflik.
