ISLAM LIVE — Gelombang serangan drone skala besar menghantam Moskwa dan wilayah sekitarnya pada Minggu (20/9/2026), bertepatan dengan hari terakhir pemilihan parlemen regional dan lokal di seluruh Federasi Rusia.
Serangan yang dinilai sebagai salah satu gelombang serangan udara terbesar sejak perang pecah ini melibat sekitar 1.600 drone. Wali Kota Moskwa, Sergei Sobianin, mengonfirmasi bahwa pertahanan udara Rusia berhasil menembak jatuh ratusan drone, dengan 450 di antaranya dicegat saat mendekati pusat kota.
Dua Tewas, Ratusan Warga Dievakuasi dan Penerbangan Lumpuh
Serangan tersebut menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur di wilayah ibu kota. Sedikitnya dua orang tewas dan 20 lainnya terluka akibat gempuran ini. Serangan juga dilaporkan menghantam kilang minyak serta fasilitas pergudangan dan logistik.
Gubernur wilayah Moskwa, Andrei Vorobyov, mengabarkan bahwa serangan turut memicu kebakaran hebat di sebuah gedung hunian 21 lantai di Ramenskoye, yang memaksa sedikitnya 600 warga dievakuasi.
Sementara itu, surat kabar lokal Kommersant melaporkan empat bandara utama di sekitar Moskwa sempat ditutup dan lebih dari 30 penerbangan domestik maupun internasional dibatalkan.
Klaim Rudal Balistik Ukraina dan Pertemuan Zelensky-Trump
Dalam peryataan terpisah, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengeklaim bahwa Ukraina untuk pertama kalinya menggunakan rudal balistik produksi dalam negeri dalam serangan tersebut.
Zelensky menegaskan bahwa sasaran utama serangan adalah fasilitas industri minyak utama serta pusat logistik yang mendukung mesin perang Rusia.
Langkah militer ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengeklaim bahwa Kyiv dan Moskwa telah sepakat untuk menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi.
Di sela-sela perkembangan ini, Zelensky mengumumkan rencananya untuk bertemu dengan Trump di New York di sela-sela sidang Majelis Umum PBB.
Rusia Tuding Ukraina Ganggu Pemilu dan Ancam Balasan
Kementerian Pertahanan Rusia menuduh Ukraina sengaja melancarkan serangan udara ini untuk mengganggu proses demokrasi pemilu yang sedang berlangsung.
Pihak Kemenhan Rusia menyatakan akan membalas tindakan tersebut dengan meningkatkan serangan berakurasi tinggi terhadap berbagai sasaran militer di Kyiv.
