ISLAM LIVE – Rangkaian Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI 2026 di Semarang menghadirkan 150 stan pameran UMKM dan produk kerajinan dari berbagai daerah. Kehadiran stan-stan tersebut menjadi ruang promosi sekaligus interaksi antara pelaku usaha dan masyarakat, sekaligus membuktikan bahwa kegiatan keagamaan berskala nasional dapat membentuk ekosistem ekonomi lokal.
“Kita berharap momentum seperti ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Semarang, khususnya pelaku UMKM. Produk-produk lokal dapat dikenal lebih luas, sehingga MTQ tidak hanya meninggalkan kesan dari sisi keagamaan, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat,” ujar Rijal Ahmad Rangkuty, Kasubdit Lembaga Tilawah dan Musabaqah Al-Qur’an Kementerian Agama, di Semarang, Kamis (17/9/2026) .
Salah satu pelaku UMKM yang merasakan dampaknya adalah Dino, pedagang tahu gimbal khas Semarang. Omzet kotornya meningkat hingga Rp2,5 juta–Rp3 juta per hari selama MTQ berlangsung. “Pengaruhnya sangat besar karena bisa menambah pendapatan untuk UMKM yang ada di sini. Sekaligus mempromosikan makanan khas daerahnya,” ujarnya .
Keterlibatan UMKM dalam MTQ juga menjadi sarana memperkenalkan produk dan kuliner khas daerah kepada masyarakat dari berbagai wilayah Indonesia. Para kafilah dari berbagai penjuru Nusantara tidak hanya berkompetisi, tetapi juga membangun persahabatan dan memperkuat persaudaraan .
Menteri Agama Nasaruddin Umar sebelumnya menekankan makna sosial dan kebangsaan MTQ Nasional. Menurutnya, pergerakan manusia dalam ajang tersebut turut menciptakan ruang transaksi, promosi, dan perluasan pasar bagi produk lokal .
Dengan demikian, MTQ Nasional XXXI di Semarang memberikan dampak berganda: meningkatkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar melalui promosi produk lokal yang lebih luas .
