ISLAM LIVE – Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan sebanyak 512 santri dan siswa di Sidoarjo menjadi korban dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG), dengan 80 orang masih menjalani perawatan intensif, 312 orang dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang, serta 120 orang lainnya masih dalam tahap observasi .
“Semua pasien sudah dalam keadaan membaik dan sehat. Jika kondisi terus stabil, hari ini mereka sudah diperbolehkan pulang,” kata Subandi, Bupati Sidoarjo, saat mengunjungi korban di RSI Siti Hajar Sidoarjo, Kamis (3/9/2026) .
Saat ini, sebanyak 34 santri masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo, menjadikannya satu-satunya fasilitas kesehatan yang masih merawat korban. Lima santri terakhir yang dirawat di RSUD Notopuro Sidoarjo juga telah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang pada Rabu sore .
Insiden ini terjadi setelah para santri menyantap menu MBG pada Selasa (1/9/2026). Menu yang disajikan saat itu terdiri dari nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu bali, tumis buncis baby corn, dan buah apel . Para santri mulai mengeluhkan gejala seperti mual, sakit perut, dan pusing setelah waktu Ashar .
“Kesamaannya adalah konsumsi dari SPPG yang sama, SPPG Kalitengah, Tanggulangin,” kata Emil Elestianto Dardak, Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Kepala Satgas MBG Jatim . Dugaan keracunan tidak hanya menimpa santri Ponpes Manbaul Hikam, tetapi juga terjadi di 18 lembaga pendidikan lain yang menerima pasokan dari SPPG yang sama .
Sebagai tindak lanjut, BGN menjatuhkan sanksi suspend berat selama 30 hari terhadap operasional SPPG Kalitengah dan mengusulkan pencopotan kepala SPPG tersebut . Sampel makanan telah diambil oleh Dinas Kesehatan Sidoarjo dan kepolisian untuk diuji di laboratorium, dengan hasil diperkirakan keluar dalam satu minggu ke depan .
BGN memastikan seluruh biaya perawatan korban ditanggung pemerintah dan fokus pada penyelamatan kesehatan para santri . “Fokus utama kami saat ini adalah penyelamatan dan memastikan penanganan kesehatan anak-anak kita di beberapa rumah sakit berjalan optimal,” ujar Ketut Sumedana, Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN.
