ISLAM LIVE – Film Solata yang mengangkat realitas pendidikan dan nasionalisme di daerah pelosok Tana Toraja berhasil meraih penghargaan Special Award for Cinema from the Emerald of the Equator: Cultural Contribution and Humanism pada Golden FEMI Film Festival di Sofia, Bulgaria, pada 6 Juni 2026, sekaligus menjalani tur di lima kota Eropa Timur.
Film besutan sutradara Ichwan Persada ini menceritakan kisah seorang relawan guru asal Jakarta yang mengajar di Ollon, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, dan berhadapan dengan kondisi pendidikan serta kehidupan anak-anak di daerah yang jauh dari pusat perkotaan.
“Setelah meraih penghargaan di Bulgaria dan menyelesaikan tur lima kota di empat negara Eropa Timur, Solata terus membawa pesan tentang pendidikan, persahabatan, kebudayaan, kemanusiaan, dan nasionalisme, sekaligus memperkenalkan wajah Indonesia melalui karya sinema,” kata Ichwan Persada, Sutradara sekaligus produser film Solata, di Makassar, Rabu (5/8/2026).
Tur internasional dilakukan di lima kota di empat negara Eropa Timur, yakni Sofia di Bulgaria pada 6 Juni, Bratislava di Slovakia pada 10 Juni, Budapest di Hungaria, serta Ankara dan Istanbul di Turki pada pertengahan hingga akhir Juni 2026.
Film Solata yang dalam bahasa Toraja berarti “Teman sebagai keluarga yang kita pilih” ini dibintangi oleh aktor Rendy Kjaernett sebagai guru dan enam murid yang memiliki nama depan menyerupai nama-nama presiden Indonesia, yang menjadi simbol penguat pesan nasionalisme.
Cerita film semakin menarik ketika sang guru bertemu enam murid dengan nama depan mirip presiden, yang menjadi simbol penguat pesan nasionalisme dan cinta tanah air.
Selain persoalan pendidikan, film ini juga menghadirkan keindahan alam, kehidupan masyarakat Toraja, termasuk lingkungan sosial dan kekayaan budaya lokal sebagai bagian dari narasi yang memperkuat identitas Indonesia di mata dunia.
Kembalinya Solata ke Indonesia menjadi momentum untuk membawa pengalaman dari perjalanan internasional sekaligus mendekatkan film itu kepada penonton Tanah Air, membuktikan bahwa cerita lokal dengan latar budaya Indonesia mampu menarik perhatian penonton internasional.
