ISLAM LIVE – Kemudahan mengakses informasi keagamaan melalui media digital telah mengubah cara generasi muda mempelajari agama.
Kondisi tersebut menjadi tantangan baru bagi dunia pendidikan Islam untuk memastikan peserta didik memperoleh pemahaman yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Hal itu disampaikan Dr. Habib Muhammad Hanif saat menjadi narasumber dalam Seminar Ilmiah bertema “Santri di Era Digitalisasi: Tantangan dan Solusi” di Sampit, Sabtu.
Seminar yang dihadiri perwakilan pondok pesantren se-Kotawaringin Timur (Kotim) itu membahas pentingnya membekali santri dengan kemampuan literasi digital di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
“Saat ini informasi keagamaan dapat diakses dengan mudah melalui berbagai platform digital. Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi dunia pendidikan untuk memastikan informasi yang diterima peserta didik berasal dari sumber yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Habib Muhammad Hanif.
Menurutnya, perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar dalam proses pembelajaran, termasuk pendidikan agama. Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) kini tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan karena peserta didik dapat memperoleh berbagai informasi hanya melalui telepon genggam dan media sosial.
Perubahan tersebut, lanjutnya, menuntut lembaga pendidikan untuk tidak hanya menyampaikan materi keagamaan secara konvensional, tetapi juga mengajarkan kemampuan memilah informasi yang valid, memahami konteks ajaran Islam, serta menghindari penyebaran informasi yang keliru.
Habib mengungkapkan bahwa fenomena tersebut juga tercermin dalam penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Ilmiah Pendidikan Citra Bakti berjudul Inovasi Kurikulum PAI: Harapan dan Realita di Era Digital pada Sekolah Menengah. Kajian tersebut menunjukkan bahwa media digital kini menjadi salah satu rujukan utama peserta didik dalam mencari pengetahuan agama.
Karena itu, ia menilai penguatan akhlak harus berjalan beriringan dengan peningkatan kemampuan memanfaatkan teknologi. Santri tidak cukup hanya mampu menggunakan perangkat digital, tetapi juga dituntut memiliki tanggung jawab moral dalam menyikapi setiap informasi yang diterima.
“Yang terpenting adalah bijak dalam menggunakan teknologi. Jangan sampai kita dikendalikan oleh gadget itu sendiri,” tegasnya.
Seminar tersebut turut dihadiri Bupati Kotawaringin Timur, Halikinnor, yang menyampaikan dukungan terhadap berbagai program pembinaan karakter di lingkungan pondok pesantren. Pemerintah daerah juga menyatakan komitmennya untuk terus mendukung pengembangan pendidikan keagamaan sebagai bagian dari upaya menyiapkan generasi muda yang mampu menghadapi tantangan era digital tanpa meninggalkan nilai-nilai moral dan akhlak.
