ISLAM LIVE – Amerika Serikat dan Iran kembali saling melancarkan serangan militer yang semakin memperburuk situasi keamanan di kawasan Timur Tengah. Rangkaian serangan terbaru tersebut dinilai semakin mengancam keberlangsungan gencatan senjata yang telah disepakati kedua negara pada pertengahan Juni lalu.
Seperti yang dilansir dari aljazeera.com pada 13 Juli 2026, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan pasukannya melancarkan serangan terhadap puluhan sasaran di sejumlah wilayah Iran pada Senin dini hari. Operasi tersebut menyasar sistem pertahanan udara, radar pesisir, kemampuan rudal dan drone, serta kapal-kapal kecil milik Iran. Serangan itu juga menjadi pertama kalinya Amerika Serikat menggunakan drone laut satu arah (one-way attack sea drones) dalam operasi militernya.
CENTCOM menegaskan bahwa operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengganggu pelayaran internasional. “Operasi ini ditujukan untuk mengurangi kemampuan Iran melanjutkan serangan terhadap pelayaran internasional yang melintasi Selat Hormuz,” demikian pernyataan CENTCOM.
Pejabat Iran menyatakan serangan Amerika Serikat menghantam delapan kota di Provinsi Khuzestan. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan seorang petugas keamanan serta melukai empat orang di sebuah instalasi penyedia air di Kota Mahshahr.
Beberapa jam kemudian, Iran membalas melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dengan menyerang sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. IRGC mengklaim telah menargetkan radar pengawasan udara jarak jauh di Bahrain, sistem radar pendeteksi kapal di Oman, serta pangkalan rudal Angkatan Darat Amerika Serikat di Kuwait.
IRGC juga mengklaim serangan di Kuwait menghancurkan dua peluncur rudal beserta fasilitas penyimpanannya sehingga menimbulkan kerusakan signifikan. Sementara itu, pemerintah Bahrain mengeluarkan peringatan kepada masyarakat agar tetap tenang dan segera menuju lokasi yang aman, sedangkan Yordania menyatakan berhasil mencegat empat rudal Iran yang memasuki wilayah udaranya.
Serangan terbaru ini terjadi hanya dua hari setelah Amerika Serikat melancarkan operasi terhadap sekitar 140 target di Iran sebagai respons atas serangan IRGC terhadap kapal-kapal komersial serta pengumuman Teheran mengenai penutupan Selat Hormuz.
Eskalasi tersebut semakin membayangi nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang disepakati Washington dan Teheran pada pertengahan Juni. Kesepakatan itu sebelumnya bertujuan memperpanjang gencatan senjata sejak April sekaligus membuka kembali Selat Hormuz sebagai jalur pelayaran internasional.
Meski kedua negara sempat sepakat melanjutkan pembicaraan, persoalan penguasaan Selat Hormuz masih menjadi titik utama perselisihan. Data perusahaan pelacakan pelayaran Kpler menunjukkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz pada Senin turun ke level terendah dalam lima pekan terakhir, menandakan meningkatnya kekhawatiran pelaku pelayaran terhadap situasi keamanan di kawasan tersebut.
