بصر: Mata yang Melihat, tetapi Hati yang Memahami

16 views

ISLAM LIVE– Ada banyak orang yang mampu melihat dunia dengan sangat jelas, tetapi gagal mengenali dirinya sendiri. Mata mereka sehat, pandangan mereka tajam, informasi yang mereka serap melimpah. Namun, ketika harus membedakan mana yang benar dan mana yang sekadar tampak benar, mereka justru tersesat. Di situlah Al-Qur’an memperkenalkan sebuah konsep yang jauh lebih dalam daripada sekadar kemampuan melihat: bashirah, penglihatan hati.

Dalam bahasa Arab, kata bashar atau bashar البصر memang berarti penglihatan. Ia menunjuk pada mata sebagai alat untuk menangkap cahaya dan bentuk. Al-Qur’an menggunakan kata ini ketika menggambarkan cepatnya suatu peristiwa, “secepat kedipan mata”, atau ketika melukiskan mata manusia yang terpaku karena ketakutan. Namun makna bashar tidak berhenti pada organ tubuh. Ia menjalar ke wilayah yang lebih sunyi: kesadaran batin.

Di sinilah bahasa Al-Qur’an menjadi begitu kaya. Mata melihat apa yang ada di depan. bashirah melihat apa yang tersembunyi di baliknya.

Perbedaan itu tampak sederhana, tetapi dampaknya luar biasa. Mata dapat menyaksikan kemewahan, sementara hati mampu membaca kesombongan yang bersembunyi di baliknya. Mata melihat senyum, tetapi bashirah menangkap ketulusan atau kepura-puraan. Mata hanya mengenali bentuk, sedangkan hati memahami makna.

Karena itu Al-Qur’an mengajak manusia berdakwah bukan sekadar dengan keyakinan, melainkan dengan kesadaran yang matang:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي

“Katakanlah, inilah jalanku. Aku mengajak kepada Allah berdasarkan basirah (pengetahuan dan keyakinan yang jelas), aku dan orang-orang yang mengikutiku” (QS. Yusuf: 108)

Menariknya, ayat ini tidak mengatakan bahwa jalan menuju Allah dibangun di atas emosi semata atau semangat yang membara. Yang menjadi fondasinya justru bashirah kejernihan melihat hakikat sesuatu. Keimanan bukan sekadar percaya, melainkan memahami.

Dalam kehidupan modern, kebutuhan terhadap bashirah justru semakin mendesak. Kita hidup di zaman ketika mata terus dibanjiri gambar, video, dan informasi. Setiap hari kita melihat ribuan wajah, membaca ratusan berita, dan menyaksikan berbagai pendapat saling bertabrakan. Anehnya, semakin banyak yang terlihat, semakin sulit menemukan kebenaran.

Baca Juga:  Ada Hati yang Hancur karena Hal yang Disebut “Candaan”

Barangkali persoalannya bukan karena mata kita kurang terbuka, melainkan karena hati kita kehilangan kemampuan membaca.

Di titik ini, Al-Qur’an menghadirkan sebuah pengingat yang menggugah:

بَلِ الْإِنسَانُ عَلَىٰ نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ

“Bahkan manusia menjadi saksi yang paling mengetahui terhadap dirinya sendiri” (QS. Al-Qiyamah: 14)

Ayat ini seperti membongkar satu kenyataan yang sering kita sembunyikan. Manusia mungkin berhasil menipu orang lain dengan kata-kata, jabatan, bahkan citra kesalehan. Namun jauh di dalam dirinya, ia mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya. Hatinya menjadi saksi yang tidak pernah bisa dibungkam.

Kelak, pada Hari Kiamat, kesaksian itu bahkan tidak hanya datang dari hati. Al-Qur’an menggambarkan lidah, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh akan berbicara mengenai apa yang pernah dilakukan pemiliknya. Tidak ada ruang lagi bagi pembelaan yang dibuat-buat. Seluruh tubuh berubah menjadi arsip kehidupan.

Namun jika ditarik lebih jauh, bashirah ternyata bukan hanya tentang kemampuan mengenali kesalahan diri. Ia juga berkaitan dengan cara manusia memandang Allah.

Al-Qur’an menegaskan:

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ

“Penglihatan tidak dapat mencapai-Nya, tetapi Dia mencapai segala penglihatan” (QS. Al-An’am: 103)

Ayat ini mengandung pelajaran yang sangat halus. Mata manusia memiliki batas. Ia hanya mampu menangkap apa yang berbentuk, memiliki arah, warna, dan ukuran. Allah berada di luar seluruh kategori itu. Karena itulah para ulama menjelaskan bahwa mengenal Allah bukanlah melalui penglihatan fisik, melainkan melalui tanda-tanda kebesaran-Nya yang memenuhi alam semesta.

Kita tidak melihat angin, tetapi merasakan hembusannya. Kita tidak melihat cinta, tetapi menyaksikan pengaruhnya. Begitu pula dengan kehadiran Allah. Yang terlihat bukan zat-Nya, melainkan jejak rahmat, hikmah, dan kekuasaan-Nya yang mengitari kehidupan.

Baca Juga:  Tauhid atau Syirik: Mengapa Al-Qur'an Menggambarkan Musyrik Seperti Orang yang Jatuh dari Langit?

Dalam konteks yang lebih luas, seluruh alam sebenarnya adalah undangan untuk mengaktifkan bashirah.

Al-Qur’an menyebut kitab suci sebagai basha’ir, petunjuk-petunjuk yang membuka mata hati manusia. Tumbuhan yang tumbuh dari tanah, pergantian siang dan malam, hingga sejarah umat-umat terdahulu semuanya disebut sebagai tabshirah sesuatu yang membuat manusia mampu melihat lebih dalam daripada apa yang tampak di permukaan.

Artinya, alam bukan sekadar objek yang diamati. Ia adalah pesan yang harus dibaca.

Sayangnya, tidak semua orang bersedia membuka mata batinnya. Ada yang memiliki ilmu, tetapi kehilangan kebijaksanaan. Ada yang cerdas membaca angka, tetapi gagal membaca nuraninya. Ada pula yang hafal banyak dalil, tetapi tidak mampu menangkap tujuan di baliknya.

Mungkin karena itulah Al-Qur’an tidak pernah menjadikan kecerdasan sebagai ukuran utama kemuliaan manusia. Yang lebih penting adalah kejernihan hati dalam memahami petunjuk.

Menariknya lagi, dalam tradisi bahasa Arab, orang yang kehilangan penglihatan kadang tetap disebut bashir orang yang melihat. Sebagian ulama memaknai penyebutan itu bukan sebagai ironi, melainkan penghormatan. Sebab boleh jadi mata lahiriahnya tertutup, tetapi mata hatinya justru jauh lebih hidup daripada mereka yang dapat memandang dunia setiap hari.

Sejarah memang menunjukkan bahwa tidak sedikit orang yang mampu melihat langit, tetapi gagal menemukan Tuhan. Sebaliknya, ada mereka yang hidup dalam keterbatasan fisik, namun berhasil menangkap makna kehidupan dengan kejernihan yang mengagumkan.

Pada akhirnya, hidup bukanlah perlombaan tentang siapa yang paling banyak melihat. Yang menentukan arah perjalanan manusia justru siapa yang paling mampu memahami apa yang dilihatnya.

Mata membawa kita mengenal dunia. bashirah membawa kita mengenal diri. Dan ketika keduanya berjalan seiring, manusia tidak hanya menjadi penonton kehidupan, tetapi juga pembaca makna di balik setiap peristiwa. Sebab cahaya terbesar bukanlah yang masuk ke mata, melainkan yang berhasil menerangi hati. 

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA