ISLAM LIVE – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali mengalami peningkatan signifikan. Sejak Jumat malam hingga Sabtu dini hari, gunung api aktif tersebut tercatat mengalami erupsi berulang sebanyak sedikitnya 10 kali. Erupsi ini menghasilkan semburan material vulkanik serta kolom abu tebal yang membumbung tinggi hingga mencapai estimasi 15 kilometer dari kawah aktif.
Berdasarkan laporan Magma Indonesia milik Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada status Level 3 (Siaga). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta pemerintah daerah mengimbau masyarakat, wisatawan, maupun nelayan untuk tidak mendekati gunung atau beraktivitas dalam radius aman 3 kilometer dari kawah aktif.
Fenomena Suara Dentuman dan Penjelasan Ahli
Erupsi berulang ini disertai dengan suara dentuman keras yang terdengar hingga wilayah pesisir Banten dan Lampung, memicu kepanikan di kalangan masyarakat. Mantan Kepala PVMBG, Dr. Surono (Mbah Rono), menjelaskan bahwa dentuman tersebut merupakan gelombang suara yang merambat melalui udara.
“On the night, lapisan udara hangat berada di atas permukaan bumi, sehingga suara letusan mengalami pembiasan (refraksi) ke bawah. Hal ini menyebabkan wilayah yang jauh dapat mendengar dentuman dengan jelas, sementara wilayah dekat justru berada di area kosong (blank spot) suara,” ujar Surono
Selain aktivitas vulkanik, Surono juga menyebut adanya kemungkinan suara dentuman atau getaran kaca di wilayah tertentu (seperti Bandung) berasal dari gelombang kejut (shockwave) pesawat berkecepatan tinggi dalam latihan militer gabungan Super Garuda Shield yang berlangsung dari 25 Agustus hingga 11 September di Baturaja (Lampung) dan Kalimantan.
Beliau juga menegaskan bahwa getaran tersebut murni gelombang suara di udara dan bukan bersumber dari gempa bumi tektonik.
Dampak Sebaran Abu Vulkanik dan Bahaya Silika
Sebaran abu vulkanik kini telah meluas hingga ke wilayah Jabodetabek, termasuk Bogor, Bekasi, Jakarta, hingga kawasan Mega Kuningan. Di Bandar Lampung, hujan abu tebal dilaporkan mulai turun sejak Sabtu malam selepas magrib, menutupi kendaraan dan teras rumah warga.
Situasi ini memicu kepanikan warga yang langsung memburu masker, hingga menyebabkan stok di sejumlah apotek habis. Di wilayah pesisir Lampung seperti Kabupaten Tanggamus, dampak abu bahkan sudah dirasakan sejak Sabtu pagi.
Dr. Surono mengingatkan masyarakat agar sangat waspada terhadap abu vulkanik ini karena berbeda dengan debu biasa.
“Abu vulkanik mengandung silika tajam yang merupakan bahan dasar pembuat kaca. Jika terhirup, partikel keras ini sangat berbahaya dan bisa memicu Infeksi Saluran Penyebab Akut (ISPA) yang parah [35, 36]. Jika menempel pada kaca mobil atau motor, jangan digosok dengan kain basah karena akan baret. Guyur dahulu dengan air mengalir hingga abunya hilang,” tegas Surono
Lumpuhnya Penerbangan Internasional
Akibat paparan abu vulkanik yang membahayakan keselamatan transportasi udara, otoritas terkait mengambil langkah mitigasi cepat. Bandara Raden Inten II di Lampung ditutup sementara, dan puluhan penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta mengalami penundaan (delay).
Dampak ini meluas hingga ke tingkat regional. Seluruh penerbangan dari Bandara Changi Singapura menuju Jakarta dibatalkan sejak Sabtu malam.
Ratusan penumpang terpaksa tertahan di Terminal 1 Keberangkatan Bandara Changi dan dialihkan untuk menjadwal ulang penerbangan pada Minggu siang. Maskapai memberikan kompensasi berupa penginapan dan transportasi bagi penumpang terdampak.
Catatan redaksi: Laporan Berita Komprehensif Berdasarkan Siaran “Apa Kabar Indonesia Pagi” tvOne (Edisi Minggu, 6 September 2026).
