Makna Bara’ah: Berlepas Diri demi Menjaga Hati

18 views

ISLAM LIVE– Ada kalanya kehidupan memaksa seseorang mengambil jarak. Bukan karena kebencian, melainkan karena ada nilai yang tak lagi bisa ditawar. Tidak semua perpisahan lahir dari permusuhan. Sebagian justru merupakan bentuk kesetiaan yang paling jujur terhadap prinsip yang diyakini.

Dalam khazanah Islam, sikap itu dikenal dengan istilah bara’ah berlepas diri. Kata ini sering disalahpahami sebagai ajakan memutus hubungan dengan orang lain. Padahal akar maknanya jauh lebih halus. Ia menunjuk pada upaya membersihkan diri dari sesuatu yang tidak layak didekati, sebagaimana seseorang ingin sembuh dari penyakit atau terbebas dari beban yang merusak kehidupannya.

Bahasa Arab menggunakan akar kata yang sama ketika menggambarkan seseorang yang pulih dari sakit. Seolah-olah kesehatan bukan sekadar hadirnya tubuh yang kuat, melainkan keberhasilan melepaskan diri dari sesuatu yang menggerogoti. Dari makna yang sama lahirlah ungkapan bahwa seseorang berlepas diri dari perbuatan, tuduhan, atau keyakinan yang tidak lagi menjadi bagian dari dirinya.

Di titik ini, bara’ah bukan sekadar sikap sosial. Ia adalah proses penyucian batin.

Al-Qur’an menggunakan istilah ini dalam beberapa kesempatan penting. Salah satunya berbunyi:

بَرَاءَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ

“Inilah pernyataan berlepas diri dari Allah dan Rasul-Nya…” (QS. At-Taubah: 1).

Pada ayat lain ditegaskan:

أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ

“Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik” (QS. At-Taubah: 3).

Ungkapan itu sering dibaca hanya dalam konteks sejarah. Padahal, di balik peristiwa politik dan sosial saat itu, tersimpan pelajaran yang jauh lebih universal: kebenaran memerlukan batas yang jelas. Sebuah keyakinan tidak akan kokoh bila terus-menerus berkompromi dengan hal-hal yang justru menghancurkan fondasinya.

Namun jika ditarik lebih jauh, batas itu pertama-tama bukan diarahkan kepada orang lain, melainkan kepada diri sendiri. Betapa sering manusia mengaku membenci keburukan, tetapi diam-diam memeliharanya dalam bentuk yang lebih halus: kesombongan yang dibungkus prestasi, iri hati yang disamarkan sebagai kritik, atau ketidakjujuran yang diberi nama “kepentingan bersama”. Berlepas diri dalam pengertian Al-Qur’an berarti berani mengatakan bahwa semua itu tidak lagi memiliki tempat di dalam hati.

Baca Juga:  Allah dan “Perumpamaan Tertinggi”: Mengapa Manusia Selalu Gagal Menyamakan Tuhan dengan Makhluk?

Nabi Ibrahim a.s memberi teladan yang sangat kuat mengenai keberanian tersebut. Ketika seluruh masyarakatnya tenggelam dalam penyembahan berhala, ia berkata:

إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ

“Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah” (QS. Az-Zukhruf: 26).

Ucapan itu bukan sekadar penolakan terhadap patung-patung. Yang ditolak Ibrahim a.s adalah seluruh sistem nilai yang membuat manusia kehilangan kebebasan berpikir dan menggadaikan nuraninya kepada sesuatu yang fana. Ia memilih berdiri sendiri daripada larut dalam keramaian yang salah.

Sikap semacam ini selalu terasa mahal dalam setiap zaman. Hari ini, berhala mungkin tidak lagi berbentuk batu atau kayu. Ia bisa hadir sebagai popularitas, kekuasaan, uang, citra diri, atau obsesi menjadi pusat perhatian. Manusia modern sering kali tidak menyembah patung, tetapi tanpa sadar menyembah pengakuan.

Dalam konteks yang lebih luas, bara’ah juga mengajarkan tanggung jawab pribadi. Al-Qur’an menggambarkan sebuah hari ketika para pemimpin yang dahulu diikuti beramai-ramai justru melepaskan diri dari para pengikutnya.

إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا

“Ketika orang-orang yang diikuti berlepas diri dari orang-orang yang mengikuti mereka” (QS. Al-Baqarah: 166).

Adegan itu menghadirkan kenyataan yang menyentak: pada akhirnya, tidak ada satu pun manusia yang bersedia memikul kesalahan orang lain. Semua ikatan yang dibangun di atas kepentingan sesaat akan terputus ketika kebenaran benar-benar menampakkan wajahnya.

Karena itu, iman tidak pernah mengajarkan pengikut yang kehilangan akal sehat. Setiap manusia bertanggung jawab atas pilihan-pilihannya sendiri. Tidak cukup berlindung di balik nama tokoh, kelompok, tradisi, ataupun mayoritas.

Baca Juga:  Ketika Tanpa Sadar Kita Hanya Mengikuti Atau Meninggalkan "Jejak" Tak Bermakna

Menariknya, akar kata yang sama juga melahirkan salah satu nama Allah: Al-Bāri’, Sang Pencipta. Nama ini mengandung makna Allah yang menciptakan segala sesuatu secara sempurna, membentuk setiap makhluk sesuai hikmah-Nya, sekaligus memisahkan satu ciptaan dari yang lain dengan identitasnya masing-masing.

Dari akar kata itu pula lahir istilah bariyyah, yakni seluruh makhluk ciptaan. Al-Qur’an bahkan menggunakan istilah tersebut ketika membandingkan kualitas manusia.

“Mereka itulah sebaik-baik makhluk” (QS. Al-Bayyinah: 7).

Sebaliknya, bagi mereka yang menolak kebenaran setelah jelas datang kepadanya, Al-Qur’an menyebut mereka sebagai:

“Seburuk-buruk makhluk” (QS. Al-Bayyinah: 6).

Menarik bahwa ukuran terbaik dan terburuk tidak ditentukan oleh asal-usul penciptaannya. Semua manusia diciptakan dari tanah yang sama. Yang membedakan adalah arah hidup yang dipilih setelah diciptakan.

Di sanalah bara’ah menemukan makna terdalamnya. Ia bukan sekadar menjauh dari sesuatu, melainkan kembali kepada jati diri yang bersih sebagaimana manusia pertama kali diciptakan. Melepaskan diri dari kebohongan agar kejujuran tumbuh. Meninggalkan kesombongan agar kerendahan hati menemukan ruangnya. Membebaskan hati dari segala bentuk penyembahan kepada selain Allah agar hidup kembali memiliki pusat yang benar.

Barangkali itulah mengapa perjalanan spiritual tidak selalu dimulai dengan menambah banyak hal dalam hidup. Kadang justru dimulai dengan mengurangi. Mengurangi keterikatan yang tidak perlu, membersihkan beban yang menggelapkan nurani, lalu perlahan menemukan kembali diri yang selama ini tertutup oleh begitu banyak kepentingan.

Sebab manusia tidak hanya membutuhkan sesuatu untuk dicintai. Ia juga membutuhkan keberanian untuk mengatakan, dengan jernih dan penuh kesadaran, bahwa ada hal-hal yang harus ditinggalkan demi menjaga kemerdekaan jiwa.

TOPIK:

Mari Dukung islamlive.id

islamlive.id berupaya merawat jurnalisme independen yang lahir dari kerja keras para penulis, pembuat video, dan tim editor. Untuk menjaga agar konten-konten dapat terus hadir secara rutin, kami memerlukan dukungan dari para pembaca. Jika kamu berkenan menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kami menghasilkan artikel, video, ataupun infografis yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan, dukungan itu akan sangat berarti bagi keberlangsungan kerja kami.

BACA JUGA