ISLAM LIVE – Kisah Ya’juj dan Ma’juj selalu menjadi salah satu tema paling misterius dalam eskatologi Islam. Mereka dikenal sebagai kaum yang akan muncul menjelang hari kiamat dan menyebarkan kerusakan besar di muka bumi. Namun, siapakah sebenarnya mereka? Apakah mereka makhluk aneh, bangsa raksasa, atau manusia biasa?
Al-Hafiz Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah memberikan penjelasan yang menarik mengenai persoalan ini. Dengan berpegang pada Al-Qur’an dan hadis-hadis yang sahih, beliau berusaha meluruskan berbagai kisah populer yang tidak memiliki dasar yang kuat.
Keturunan Adam dan Nuh
Ibnu Katsir menegaskan bahwa Ya’juj dan Ma’juj adalah keturunan Nabi Adam. Menurutnya, tidak ada perbedaan pendapat yang begitu penting dan signifikan di kalangan ulama mengenai hal tersebut. Mereka juga merupakan keturunan Nabi Nuh, sebab setelah banjir besar hanya keturunan Nabi Nuh yang tersisa di muka bumi.
وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ
“Dan Kami jadikan anak cucunya sebagai orang-orang yang melanjutkan keturunan.” (QS. As-Saffat: 77)
Beliau kemudian mengutip riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Nuh memiliki tiga anak: Sam, Ham, dan Yafits. Sam menjadi nenek moyang bangsa Arab, Ham menjadi nenek moyang bangsa Sudan, sedangkan Yafits menjadi nenek moyang bangsa Turk (slavia, sebagian bangsa eropa dan bangsa utara). Nah, Ya’juj dan Ma’juj ini termasuk salah satu kelompok dari keturunan Yafits. Kemudian menyebut mereka memiliki kedekatan genealogis dengan bangsa Turk dan Mongol, meskipun Ya’juj dan Ma’juj jauh lebih besar jumlahnya dan lebih dahsyat efek merusaknya.
Populasi yang Sangat Besar
Salah satu karakteristik utama Ya’juj dan Ma’juj adalah jumlah mereka yang sangat banyak. Untuk menggambarkan hal itu, Ibnu Katsir mengutip hadis sahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri. Rasulullah SAW bersabda:
يقول الله تعالى يوم القيامة: يا آدم قم فابعث بعث النار من ذريتك… من كل ألف تسعمائة وتسعة وتسعون إلى النار وواحد إلى الجنة… أبشروا فإن منكم واحدا ومن يأجوج ومأجوج ألفا
Allah Ta’ala berfirman pada Hari Kiamat: ‘Wahai Adam, bangkitlah dan keluarkanlah rombongan penghuni neraka dari keturunanmu.’ Adam bertanya: ‘Wahai Tuhanku, siapakah rombongan penghuni neraka itu?’ Allah berfirman: ‘Dari setiap seribu orang, sembilan ratus sembilan puluh sembilan masuk neraka dan satu orang masuk surga.’ … (hingga beliau bersabda): ‘Bergembiralah, karena dari kalian satu orang, sedangkan dari Ya’juj dan Ma’juj seribu orang.’ (HR. Bukhari No. 4741; Muslim No. 222. Al-Bidayah wa An-Nihayah, Juz 2, 316).
Hadis ini menunjukkan bahwa jumlah Ya’juj dan Ma’juj sangat mendominasi dibandingkan populasi manusia lainnya. Karena itu, dalam riwayat-riwayat akhir zaman mereka digambarkan mampu memenuhi berbagai penjuru bumi ketika Allah mengizinkan mereka keluar. Besarnya populasi ini juga yang menjelaskan mengapa Rasulullah SAW menjadikan Ya’juj dan Ma’juj sebagai kelompok yang sangat dominan dalam perhitungan jumlah penghuni neraka pada hadis tersebut.
Meluruskan Mitos Fisik Ya’juj dan Ma’juj
Di tengah masyarakat sering beredar cerita bahwa Ya’juj dan Ma’juj memiliki bentuk tubuh yang aneh. Ada yang menggambarkan mereka setinggi pohon kurma, sangat pendek, atau memiliki telinga yang dapat dijadikan alas tidur dan selimut. Ibnu Katsir memberikan pandangannya, yaitu:
والصحيح أنهم من بني آدم وعلى أشكالهم وصفاتهم
“Yang benar, mereka termasuk keturunan Adam dan memiliki bentuk serta sifat sebagaimana manusia pada umumnya.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, Juz 2, 317).
إن الله خلق آدم وطوله ستون ذراعا ثم لم يزل الخلق ينقص حتى الآن
“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dengan tinggi enam puluh hasta, kemudian ukuran manusia terus berkurang hingga sekarang.” (HR. Bukhari No. 6227; Al-Bidayah wa An-Nihayah, Juz 2, hlm. 317).
Berdasarkan argumentasi dan hadis ini, beliau menyimpulkan bahwa cerita-cerita fantastis mengenai bentuk fisik Ya’juj dan Ma’juj tidak memiliki dasar yang kuat dan hanya merupakan dugaan terhadap perkara gaib.
Tembok Dzulqarnain
Selanjutnya, Al-Qur’an mengisahkan bahwa Dzulqarnain membangun sebuah tembok raksasa dari besi dan tembaga untuk menghalangi Ya’juj dan Ma’juj. Menurut Ibnu Katsir, tembok tersebut merupakan salah satu bangunan paling agung yang pernah dikenal manusia.
Beliau juga menyinggung laporan sejarah bahwa Khalifah Al-Watsiq pernah mengirim utusan untuk menelusuri keberadaan tembok tersebut. Para utusan itu melaporkan adanya bangunan sangat besar, kokoh, memiliki pintu dan kunci yang kuat, serta dijaga oleh penduduk wilayah sekitarnya.
Tanda Awal Terbukanya Tembok
Ibnu Katsir mengutip hadis sahih dari Zainab binti Jahsy bahwa suatu hari Rasulullah SAW bangun dari tidurnya dengan wajah memerah dan bersabda:
لا إله إلا الله ويل للعرب من شر قد اقترب فتح اليوم من ردم يأجوج ومأجوج مثل هذه
“Tidak ada Tuhan selain Allah. Celakalah bangsa Arab karena keburukan yang telah dekat. Hari ini telah terbuka dari dinding Ya’juj dan Ma’juj sebesar ini.” (HR. Bukhari No. 3346; Muslim No. 2880. Al-Bidayah wa An-Nihayah, Juz 2, hlm. 319).
Pada akhir redaksi hadis, Nabi kemudian membuat lingkaran kecil dengan jari-jari tangannya. Menurut Ibnu Katsir, hadis ini dapat dipahami sebagai isyarat bahwa masa keluarnya Ya’juj dan Ma’juj semakin mendekat, atau sebagai simbol mulai terbukanya berbagai fitnah besar di tengah umat manusia.
Mengapa Mereka Belum Keluar?
Sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad tentang usaha Ya’juj dan Ma’juj menggali tembok setiap hari. Ketika hampir berhasil menembusnya, mereka berhenti dan kembali pulang. Namun tembok tersebut kembali utuh seperti semula. Menjelang akhir zaman, pemimpin mereka akan berkata:
ارجعوا فستحفرونه غدا إن شاء الله
“Pulanglah, besok kita akan melanjutkannya, insya Allah.” (Imam Ahmad No. 10254, Al-Bidayah wa An-Nihayah, Juz 2, hlm. 320.)
Ketika kalimat insya Allah diucapkan, Allah tidak lagi mengembalikan tembok itu seperti semula. Akhirnya mereka berhasil menembusnya dan keluar memenuhi bumi sebagaimana firman Allah:
حَتَّى إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ
“Hingga apabila Ya’juj dan Ma’juj dibukakan, mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.” (QS. Al-Anbiya’: 96)
Kita dapat pahami, bahwa berdasarkan penjelasan Ibnu Katsir, Ya’juj dan Ma’juj bukanlah makhluk mitologis ataupun monster yang memiliki bentuk tubuh aneh. Mereka adalah bangsa manusia dari keturunan Adam dan Nuh yang jumlahnya sangat besar serta memiliki kecenderungan merusak. Banyak kisah populer mengenai fisik mereka yang ditolak oleh Ibnu Katsir karena tidak memiliki landasan yang sahih.
Meskipun keberadaan dan lokasi mereka masih menyisakan misteri, Al-Qur’an dan hadis menegaskan bahwa keluarnya Ya’juj dan Ma’juj merupakan salah satu tanda besar menjelang datangnya hari kiamat. Karena itu, yang terpenting bukan hanya berspekulasi tentang identitas mereka, melainkan mengambil pelajaran dari peringatan yang terkandung dalam kisah tersebut.(*)
Wallahu a’lam.
