ISLAM LIVE– Ada satu kenyataan yang diam-diam membentuk manusia sejak awal peradaban: kita adalah makhluk peniru. Tidak ada manusia yang benar-benar tumbuh sendirian. Cara bicara, cara berpikir, cara marah, bahkan cara mencintai, semuanya lahir dari sesuatu yang kita lihat lalu kita ikuti.
Barangkali karena itu, Al-Qur’an menggunakan satu kata yang sangat menarik ketika berbicara tentang Nabi Muhammad saw: uswah. Allah berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Ayat itu tidak sekadar memuji pribadi Nabi saw. Ia sekaligus mengakui satu fakta mendasar tentang manusia: hidup manusia selalu membutuhkan contoh. Kita belajar dengan meniru. Kita membentuk diri dengan mengikuti. Dan ironisnya, kita sering tidak sadar siapa sebenarnya yang sedang kita jadikan kiblat.
Dalam khazanah bahasa Arab klasik, kata uswah atau iswah berarti keadaan ketika seseorang mengikuti orang lain, baik dalam kebaikan maupun keburukan, dalam hal yang menyenangkan ataupun merusak. Artinya, keteladanan bukan selalu sesuatu yang positif. Ada teladan baik, ada pula teladan yang perlahan menghancurkan.
Hari ini, makna itu terasa sangat gamblang. Dunia modern dipenuhi figur yang terus dipertontonkan sebagai panutan. Media sosial melahirkan “nabi-nabi baru” dalam bentuk influencer, selebritas, tokoh politik, hingga motivator instan. Mereka membentuk cara orang berpakaian, berbicara, memandang tubuh, bahkan menentukan standar kebahagiaan.
Masalahnya, tidak semua yang populer layak diteladani.
Kita hidup di zaman ketika pencitraan sering lebih penting daripada kedalaman. Orang bisa tampak bijak hanya dengan potongan video satu menit. Bisa terlihat dermawan hanya karena konten sedekah. Bisa tampak religius karena kutipan-kutipan yang dipoles estetika digital. Padahal, keteladanan sejati tidak lahir dari tampilan, melainkan dari konsistensi karakter.
Mungkin karena itulah Al-Qur’an tidak hanya menyebut “uswah”, tetapi “uswah hasanah” teladan yang baik. Sebab manusia memang selalu mencari figur untuk diikuti, tetapi tidak semua figur membawa manusia menuju kesehatan batin.
Menariknya, akar kata yang sama juga melahirkan kata lain: al-asā kesedihan atau duka. Dalam bahasa Arab klasik, kesedihan dipahami sebagai keadaan ketika hati terus mengikuti sesuatu yang hilang. Ada keterikatan emosional yang tertinggal, lalu berubah menjadi luka.
Al-Qur’an menggunakan ungkapan itu ketika menghibur Rasulullah saw agar tidak tenggelam dalam kesedihan menghadapi penolakan kaumnya:
فَلَا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
“Maka janganlah engkau terlalu bersedih terhadap kaum yang mengingkari” (QS. Al-Maidah: 8)
Di sini, kesedihan bukan sekadar rasa sedih biasa. Ia adalah luka karena hati terlalu melekat pada sesuatu yang tidak bisa dipertahankan.
Dan bukankah banyak manusia modern mengalami hal serupa?
Kita sedih bukan hanya karena kehilangan uang atau jabatan, tetapi karena identitas kita terlanjur bergantung pada hal-hal itu. Kita hancur ketika tidak lagi dipuji, ketika hubungan berakhir, ketika popularitas turun, ketika dunia tidak lagi memandang kita penting. Ada sesuatu dalam diri manusia yang selalu ingin melekat pada manusia lain, pada citra diri, pada pengakuan sosial.
Karena itu, bahasa Arab klasik memberi hubungan yang menarik antara asā (duka) dan iswā’ atau āsā yang berarti memperbaiki luka.
Dari akar kata yang sama lahir makna tentang seorang tabib yang mengobati luka. Orang Arab dahulu menyebut penyembuh luka dengan istilah āsī. Seolah bahasa itu ingin mengatakan: manusia memang makhluk yang mudah terluka, tetapi juga diberi kemampuan untuk saling menyembuhkan.
Di titik ini, makna keteladanan menjadi lebih dalam. Teladan sejati bukan orang yang tampak sempurna tanpa luka. Teladan sejati adalah mereka yang mampu menjadi penyembuh bagi orang lain.
Nabi Muhammad saw menjadi “uswah hasanah” bukan karena hidup beliau bebas dari penderitaan. Justru sebaliknya. Beliau kehilangan orang tua sejak kecil, ditinggal wafat anak-anaknya, dihina, diusir, diperangi, bahkan dikhianati. Tetapi dari semua luka itu, yang lahir bukan dendam, melainkan kasih sayang.
Ada banyak orang kuat di dunia. Tetapi tidak semua kekuatan melahirkan kelembutan.
Di zaman sekarang, manusia justru sering menjadikan orang paling keras sebagai simbol keberhasilan. Kita mengagumi mereka yang mampu mendominasi, mempermalukan lawan debat, membangun citra tak terkalahkan, atau menampilkan hidup mewah tanpa cela. Padahal sering kali semua itu hanya topeng dari luka yang tidak pernah sembuh.
Bahasa Arab klasik tampaknya memahami satu hal yang sangat manusiawi: orang yang terluka bisa memilih dua jalan. Ia menjadi sumber kerusakan, atau berubah menjadi penyembuh bagi sesamanya.
Karena itu, dalam syair Arab lama terdapat ungkapan tentang seseorang yang “mengobati saudaranya dengan dirinya sendiri.” Sebuah gambaran tentang pengorbanan dan empati. Tentang manusia yang rela menanggung kesulitan demi meringankan luka orang lain.
Barangkali dunia modern sedang kekurangan tipe manusia seperti itu.
Kita hidup di era ketika semua orang ingin didengar, tetapi sedikit yang benar-benar mau mendengar. Semua orang ingin diperhatikan, tetapi sedikit yang mau hadir bagi luka orang lain. Akibatnya, manusia modern terlihat sangat terhubung secara digital, tetapi tetap kesepian secara emosional.
Di tengah dunia seperti itu, konsep uswah hasanah terasa bukan sekadar istilah agama, melainkan kebutuhan peradaban. Manusia membutuhkan figur yang tidak hanya menginspirasi, tetapi juga menenangkan. Tidak hanya memukau, tetapi juga menyembuhkan.
Sebab pada akhirnya, siapa yang kita ikuti perlahan akan menentukan siapa diri kita.
Jika manusia terus menjadikan kesombongan sebagai teladan, maka masyarakat akan dipenuhi ego yang saling bertabrakan. Jika kepalsuan menjadi budaya, maka kejujuran akan terasa aneh. Tetapi jika keteladanan dibangun di atas empati, integritas, dan kasih sayang, maka luka sosial perlahan bisa dipulihkan.
Mungkin itu sebabnya Al-Qur’an tidak menawarkan Rasulullah saw sekadar sebagai tokoh yang dikagumi, tetapi sebagai “uswah” figur yang diikuti cara hidupnya.
Karena manusia tidak cukup hanya diberi teori. Manusia membutuhkan contoh nyata bahwa menjadi baik tetap mungkin, bahkan di dunia yang penuh luka.
